Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Teman-teman.
Saya ingin berbagi konsep framework bernama 'Leading and Lagging'. Meskipun namanya terdengar keren, saya yakin banyak dari Anda yang sebenarnya sudah menerapkan konsep ini dalam bisnis masing-masing. Konsep ini sangat sederhana dan saya dapatkan saat kuliah MBA.
Aplikasi konsep 'Leading and Lagging' ini sangat luas. Namun, untuk kali ini saya akan fokus pada penerapannya di sisi cash flow atau arus kas dalam bisnis Anda.
Memahami Konsep Leading & Lagging dalam Cash Flow
Intinya, 'leading' berarti mempercepat dan 'lagging' berarti memperlambat. Dalam konteks cash flow, saya lebih suka mendefinisikannya sebagai: mempercepat uang masuk dan memperlambat uang keluar, demi menjaga stabilitas arus kas kita.
Saya rasa, hampir semua pebisnis mengalami tantangan ini. Terutama kita sebagai seller online, dari proses pengiriman hingga dana cair bisa memakan waktu sekitar 10 hari. Jika Anda berbisnis produksi, dari awal produksi hingga produk terjual dan menjadi uang bisa sebulan. Bahkan untuk impor, dari proses impor hingga mendapatkan profit bisa memakan waktu dua bulan. Setiap jenis seller tentu memiliki rentang waktu yang berbeda-beda.
Namun, intinya adalah masalah cash flow merupakan isu bisnis yang sangat umum. Saya mengalaminya, dan saya yakin Anda pun demikian.
Masalah Cash Flow vs. Masalah Profit
Sebelum jauh, saya ingin mengklasifikasikan terlebih dahulu masalah cash flow yang mungkin Anda hadapi. Perlu diingat, masalah cash flow tidak sama dengan masalah profit.
Mari kita ambil contoh sederhana. Saya menjual tisu seharga Rp100.000 dengan modal Rp80.000 (tanpa biaya admin atau lainnya untuk mempermudah). Tisu ini terjual hari ini, namun pembayarannya nanti saat barang sampai (mengutang). Secara profit, saya untung Rp20.000. Faktanya, profit Rp20.000 itu memang ada.
Namun, di hari ini saya tidak ada uang masuk. Jadi, cash flow saya nol. Bahkan, jika saya mengeluarkan biaya iklan Rp5.000, uang saya sudah keluar Rp5.000. Apakah saya rugi Rp5.000? Tidak. Saya tetap untung Rp15.000 (Rp20.000 profit - Rp5.000 iklan). Tapi, di hari ini, cash flow saya minus Rp5.000.
Ini mengesampingkan pembatalan atau retur. Artinya, saya tidak rugi, tapi cash flow saya negatif. Uang saya 'hilang' sementara. Bayangkan jika saya tidak punya uang untuk membayar kebutuhan. Bisnis jadi tidak sehat. Profit tapi cash flow bermasalah. Itu baru satu transaksi sederhana, aslinya tentu lebih kompleks.
Saya pribadi telah melewati semua fase masalah cash flow ini, dan kemungkinan besar Anda juga mengalaminya, apalagi jika kita sama-sama seller online.
Tiga Kategori Masalah Cash Flow
1. Penjualan Naik, tapi Cash Flow Bermasalah
Kategori pertama adalah ketika penjualan naik, namun Anda merasakan masalah cash flow. Penjualan naik, tapi uangnya seperti 'tidak ada'.
Langkah Pertama: Pastikan Profit Sehat
Pertama, pastikan profit Anda sehat. Hitunglah dengan teliti, dengan akurasi di atas 90%. Sekarang ini sangat mudah, kita bisa memanfaatkan AI. Saran saya, gunakan minimal dua atau bahkan tiga AI berbeda (misalnya ChatGPT, Gemini, Claude) untuk melakukan perhitungan dan memastikan profitabilitas Anda sehat.
Apa indikator profit sehat? Menurut perhitungan saya untuk bisnis online, profit kotor yang sehat adalah jika maksimal 20-50% dari keuntungan kotor Anda dialokasikan untuk iklan. Ini adalah salah satu kriteria profit sehat yang saya kaitkan dengan biaya iklan. Secara umum, mendapatkan profit bersih 5% (setelah dikurangi semua biaya: gaji, sewa, internet, biaya retur, plastik, depresiasi, dll.) untuk penjualan online saat ini, menurut saya, sudah termasuk sehat.
Jadi, pastikan profit Anda sehat di atas kertas terlebih dahulu. Jika profit Anda sehat, barulah kita bahas 'Leading and Lagging'. Namun, jika profit Anda tidak sehat di atas kertas, lupakan dulu 'Leading and Lagging'. Benahi dulu profitabilitasnya. Karena jika profit terlalu tipis, metode 'Leading and Lagging' yang akan saya sampaikan nanti akan sangat sulit diterapkan.
Contoh lain, jika saya menjual tisu Rp100.000 dengan modal Rp99.000. Jika saya sudah mengeluarkan biaya iklan Rp5.000, saya harus menjual lima tisu agar biaya iklan tersebut kembali, artinya usahanya lima kali lebih besar. Ini menunjukkan profit yang terlalu tipis dibanding biaya iklan, mengingat biaya iklan seringkali harus dikeluarkan di awal.
Menurut saya, ketika penjualan naik, hampir semua seller online menghadapi masalah cash flow. Sebab, saat penjualan meningkat, produksi dan impor juga harus diperbanyak. Seringkali kita harus membayar di muka atau memberi DP kepada supplier atau pihak produksi, sehingga uang keluar lebih dulu. Sementara uang masuk dari penjualan bisa memakan waktu 10 hari, atau bahkan sebulan jika berasal dari proses produksi.
Jadi, jika Anda mengalami masalah cash flow saat penjualan naik, itu sangat wajar. Jika profit Anda sehat, lanjutkan membaca artikel ini. Jika profit Anda tidak sehat, benahi dulu profitabilitasnya. Dan yang paling parah adalah jika Anda tidak tahu apakah profit Anda sehat atau tidak. Ini sudah sangat mudah diatasi sekarang, Anda tinggal memanfaatkan AI dan butuh database penjualan. Jika saat ini Anda belum memiliki database penjualan, itu sudah keterlaluan.
2. Penjualan Stabil/Stagnan, tapi Cash Flow Bermasalah
Kategori kedua, jika penjualan Anda stabil atau stagnan (naik turunnya tidak terlalu signifikan, mungkin hanya minus 10% saja), namun cash flow Anda bermasalah, hampir bisa dipastikan masalahnya ada pada profitabilitas. Dengan penjualan yang stabil tetapi cash flow yang seret, ini menandakan profit Anda tidak sehat. Oleh karena itu, benahi dulu profitabilitasnya. Jangan langsung memikirkan bagaimana menyehatkan cash flow jika profitnya belum beres.
3. Penjualan Turun, Cash Flow Bermasalah
Kategori ketiga, ini yang paling parah: penjualan turun dan cash flow juga bermasalah. Ini wajar. Seringkali ini terjadi karena overstock. Kita sudah membayar supplier atau produksi dalam jumlah besar, namun penjualan tidak mampu mengimbangi, sehingga uang tertahan di barang. Padahal, kita tidak bisa menggaji karyawan atau membayar kebutuhan lain dengan barang. Masalah overstock, bonus berlebihan, atau kegagalan produksi adalah pemicunya. Dalam kondisi ini, metode 'Leading and Lagging' mungkin tidak terlalu relevan, meskipun jika dipraktikkan bisa sedikit memperlambat kesulitan yang ada.
Itulah tiga kategori masalah cash flow. Jika penjualan Anda naik dan profit sehat, metode 'Leading and Lagging' sangat cocok. Jika penjualan naik namun profit tidak sehat, fokuslah membenahi profit Anda. Jika penjualan stagnan dan cash flow bermasalah, hampir pasti itu adalah masalah profitabilitas. Dan jika penjualan turun, cash flow bermasalah adalah hal yang wajar, namun inti masalahnya bukan pada 'Leading and Lagging' ini. Ternyata pembahasan ini cukup panjang!

0 Response to "Leading dan Lagging: Kunci Mengatur Arus Kas Bisnis Online Anda"
Posting Komentar