Belakangan ini, saya mulai membaca buku fisik lagi. Ini menarik, karena setelah beberapa tahun saya beralih dari buku fisik ke Kindle, dan kemudian beralih total ke audiobook.
Saya pernah memiliki Kindle Paperwhite, yang kemudian saya jual. Lalu, sekitar dua tahun terakhir, saya beralih ke audiobook. Menurut saya, audiobook sangat cocok untuk saya di tengah kehidupan yang penuh distraksi ini. Saat sibuk sana-sini, audiobook sangat pas. Sambil berkendara motor, jogging, atau berolahraga dengan sepeda statis, saya mendengarkan audiobook. Cara ini lebih cocok bagi saya.
Selain karena kesibukan, dengan audiobook, saya tidak ragu untuk terus maju. Jika membaca buku fisik, kadang saya merasa bingung atau lupa apa yang baru saja saya baca. Dan jujur saja, saya malas untuk mengulang baca. Sangat sedikit buku yang pernah saya baca dua kali, terutama buku bisnis. Namun, dengan audiobook, saya bisa memutarnya berkali-kali — 10, 15, bahkan 20 kali pun tidak masalah. Materi yang disampaikan jadi lebih melekat.
Ada satu buku yang saya beli di Audible, harganya sekitar Rp500.000, yaitu The Millionaire Fastlane. Buku itu sudah saya dengarkan mungkin 15 hingga 20 kali, dan isinya masih sangat melekat sampai sekarang. Sangat melekat.
Nah, yang ingin saya ceritakan sekarang adalah mengapa saya mulai membaca buku fisik lagi. Saya pikir, membaca buku bisnis secara konvensional mungkin tidak lagi se-efisien dulu. Maksud saya, bukan konteksnya yang tidak relevan, tapi cara saya menyerap informasinya. Untuk buku bisnis, saya lebih nyaman dengan cara lain.
Contohnya, buku 100 Million Offers karya Alex Hormozi yang baru saya pelajari (bukan baca). Saya mencari sumber-sumbernya di internet menggunakan AI, lalu mengumpulkannya. Saya menggunakan Gemini Notebook untuk membuat ringkasan dan audio rangkuman dari berbagai sudut pandang (angle A, B, C). Saya mendengarkan ringkasan dan intisari dari buku tersebut sambil lari, naik motor, atau berolahraga. Saya yakin, bahkan jika saya membaca buku aslinya secara langsung, prosesnya tidak akan lebih cepat dibandingkan mendengarkan audiobook yang dibuat AI.
Itu untuk buku bisnis. Namun, ada satu jenis buku yang menurut saya tetap tidak bisa menggunakan cara seperti itu: yaitu novel. Saat ini, saya sedang membaca Harimau-Harimau! karya Mochtar Lubis. Ini adalah karya sastra klasik. Kemarin, saat berjalan-jalan di mal, saya juga membeli novel Kenangan-Kenangan di Malaya karya Buya Hamka.
Saya baru membaca dua novel Hamka sebelumnya: Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Saya memang cukup sering membaca novel. Intinya, membaca buku fisik kini terasa lebih relevan untuk novel seperti ini. Sebab, mendengarkan ringkasan novel menggunakan AI rasanya akan percuma. Tidak menarik, karena yang kita cari adalah sensasi imajinasi dari setiap kata dan kalimatnya.
Seperti di novel Harimau-Harimau!, membayangkan bagaimana Wak Katok bertemu harimau. Jadi, imajinasi kita terbangun dari setiap kata. Jika hanya ringkasan AI, itu tidak menarik. Jadi, menurut saya (dan saya bisa saja salah), untuk buku bisnis, ringkasan dan audiobook yang dibuat AI atau audiobook langsung sangat membantu. Tapi untuk novel, saya rasa tidak bisa. Makanya saya memilih untuk membacanya langsung. Ini buku baru yang saya beli, semoga segera habis. Bahkan belum saya buka. Saya memang punya beberapa novel.
Jika saya harus merekomendasikan novel, tentu saja Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Bagi orang Indonesia yang belum membacanya, ini wajib dibaca! Tetralogi Pulau Buru itu luar biasa. Sangat keren. Lalu, novel Hamka seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck juga bagus, dengan kisah Zainuddin dan Hayati. Kemudian, ada juga Angels & Demons karya Dan Brown. Saya ingat sekali, saat masih mahasiswa, saya sampai lupa waktu membacanya karena saking serunya. Karya Dan Brown memang sangat seru.
Lalu ada The Alchemist karya Paulo Coelho, itu juga seru. Namun, saya membaca versi bahasa Inggrisnya dan menurut saya, bahasanya sedikit sulit dicerna bagi kemampuan bahasa Inggris saya yang pas-pasan. Nanti kalau saya teringat lagi, saya akan berbagi.
Jadi, intinya, saya kembali membaca buku fisik, khususnya novel. Oh ya, saya juga penasaran ingin mencoba membaca novel Dee Lestari, yang banyak direkomendasikan orang. Buku Dee Lestari sebenarnya ada di rumah, milik istri saya, tapi belum sempat saya baca. Mungkin nanti akan saya baca, setelah selesai membaca Kenangan-Kenangan di Malaya karya Hamka.

0 Response to "Mengapa Saya Kembali Membaca Novel Fisik di Tengah Dominasi Audiobook & AI"
Posting Komentar