Dalam sesi berbagi kali ini, saya ingin membahas beberapa pertanyaan menarik seputar jualan online, mulai dari isu kebijakan pajak pemerintah, efektivitas iklan produk otomatis, hingga manajemen risiko karyawan untuk menjaga performa toko.
Membongkar Kebijakan Pajak Pemerintah untuk Seller Online
Salah satu topik yang paling banyak dibicarakan adalah kebijakan pajak pemerintah yang mungkin akan segera diterbitkan atau bahkan sudah berlaku. Banyak yang bertanya, apakah ini akan menguntungkan kita sebagai seller atau justru sebaliknya? Sejujurnya, jika ditanya apakah menguntungkan, tentu tidak. Namun, sebagai pelaku usaha, kita harus siap beradaptasi.
Saat ini, saya perhatikan banyak seller yang mulai khawatir untuk berjualan online karena isu pajak ini. Namun, kita harus ingat bahwa regulasi ini berlaku untuk semua, apalagi bagi seller dengan omzet di atas 4,8 miliar rupiah per tahun. Alhamdulillah, saat ini saya memiliki 53 toko yang omzetnya belum ada yang menyentuh angka tersebut, jadi masih cukup aman.
Ada juga pertanyaan apakah aman jika kita main banyak toko dengan rekening dan KTP yang berbeda. Tentu saja, itu lebih aman. Kalau rekening dan KTP-nya beda, itu tidak akan jadi masalah. Ibaratnya, kita mengoperasikan toko milik orang lain secara legal.
Namun, perlu dicatat bahwa terkait pajak ini, informasinya masih belum jelas, terutama dari platform seperti Shopee. Masih belum ada kepastian apakah omzet yang dikenakan pajak itu sebelum atau setelah dikurangi admin fee, dan apakah wajib pajak diidentifikasi dari rekening atau akun. Oleh karena itu, saya menyarankan untuk bersabar dan tidak terburu-buru membuat konten atau opini mengenai hal ini sampai ada kejelasan resmi. Jujur, saya juga merasa khawatir jika objek pajaknya adalah omzet sebelum admin fee, itu akan cukup merepotkan.
Strategi Efektif Iklan Produk Otomatis di Shopee
Pertanyaan berikutnya datang dari Mas Iqbal Maulana mengenai iklan produk otomatis di Shopee. Dia menanyakan berapa lama durasi yang bagus untuk menjalankan iklan jenis ini. Bagi saya, iklan produk otomatis ini saya anggap sebagai upaya organik. Jadi, kaidahnya sama seperti organik: jika hasilnya bagus, maka saya iklankan lebih lanjut.
Saya tidak menunggu seminggu. Jika dalam sehari hasilnya sudah terlihat bagus, langsung saya keluarkan untuk diiklankan secara manual dengan strategi ROAS (Return on Ad Spend) yang saya miliki. Intinya, semua toko saya mengaktifkan tipe iklan otomatis ini karena saya melihatnya sebagai indikator awal performa produk secara organik.
Manajemen Risiko Karyawan dan Pengiriman Instan di TikTok Shop
Mas Ilham bercerita tentang masalah serius yang dihadapinya di TikTok Shop. Tokonya terkena suspen pengiriman instan karena karyawannya telat mengklik 'request pick up'. Dari 99 pesanan instan, 73 di antaranya telat diklik. Padahal, Mas Ilham sudah memberikan instruksi dan merasa karyawannya paham. Ini adalah masalah umum dalam manajemen tim.
Dalam konteks ini, saya ingin membahas mengenai risk assessment, yang memiliki dua matriks utama: tingkat fatalitas (fatalitiy) dan tingkat peluang (kans). Contohnya adalah kebakaran. Peluang kebakaran mungkin kecil, tetapi tingkat fatalitasnya sangat tinggi karena bisa menghancurkan segalanya. Demikian pula dengan TikTok Shop.
Saya mendengar (karena saya sendiri sudah tidak aktif di TikTok Shop) bahwa jika rating toko turun sedikit saja, dampaknya bisa sangat parah dan sulit untuk bangkit kembali. Ini berarti fatalitasnya tinggi. Jika suatu risiko memiliki fatalitas yang tinggi, jangan pernah sepenuhnya percaya pada karyawan, meskipun mereka bilang sudah paham. Kita harus terus mendampingi dan memverifikasi. Seperti analogi kebakaran, meskipun peluangnya rendah, kita tetap menyediakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) di setiap gedung karena fatalitasnya tinggi.
Jadi, meskipun karyawan Anda bilang sudah paham, jika risiko yang dihadapi memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, Anda sebagai pengawas harus tetap skeptis dan terus memantau dengan ketat. Apalagi jika menyangkut "nyawa" bisnis, seperti halnya rating toko di TikTok.
Budget Iklan Tak Terbatas: Apakah Selalu Efektif?
Mas Radil bertanya apakah saya pernah memasang budget iklan langsung besar, misalnya 2-3 juta rupiah, dengan tujuan agar spend bisa mencapai 20-30% dari budget tersebut. Saya pribadi belum pernah memasang budget sebesar itu sekaligus, tetapi saya sering menggunakan mode "tak terbatas" (unlimited budget) hampir setiap hari.
Dulu, sekitar tahun lalu, karena seringnya terjadi "bom COD" (pesanan COD fiktif atau return), saya selalu menyarankan untuk menggunakan budget terbatas. Namun, karena saat ini kasus "bom COD" sudah nyaris tidak ada, saya menjadi lebih berani untuk menggunakan budget tak terbatas, asalkan perhitungan ROAS saya benar. Kuncinya adalah terus memantau dan memastikan ROAS tetap positif.
Komunitas dan Workshop Bersama Ghani Rozaqi
Bagi teman-teman yang di Bandung, saya sedang membangun komunitas baru bernama Keleketek. Kami rutin bertemu setiap pekan, insyaallah setiap hari Selasa. Pembayarannya hanya sekali untuk seterusnya, karena saya percaya komunitas yang berkualitas perlu komitmen dari anggotanya. Saat ini, kami bertemu di ruko yang sedang saya gunakan hingga bulan Oktober. Tentu saja, teman-teman dari luar Bandung juga boleh bergabung, namun perlu mempertimbangkan biaya transportasi dan konsumsi sendiri karena ini adalah pertemuan rutin.
Selain itu, ada juga komunitas yang lebih eksklusif, yaitu Syndik Dropship, yang sedang membuka pre-open batch 16. Batch ini akan dimulai sekitar awal atau pertengahan Juli. Jika Anda bergabung sekarang, ada diskon menarik yang bisa didapatkan. Untuk informasi lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi saya melalui pesan pribadi.
Semoga sharing kali ini bermanfaat untuk perjalanan bisnis online Anda! Jangan lupa untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan yang ada di dunia e-commerce. Anda bisa menemukan lebih banyak insight di ghanirozaqi.com.

0 Response to "Insight Jualan Online: Kebijakan Pajak, Iklan Otomatis, dan Manajemen Risiko Karyawan"
Posting Komentar