Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Ini adalah pembaruan vlog YTS (YouTube Shorts) saya yang kelima. Artinya, sudah lima minggu saya rutin mengunggah vlog ini setiap hari Rabu pukul 19.30. Saya memang sedang serius ingin mendapatkan uang dari YouTube Shorts.
Sebenarnya, saya sudah cukup lama mendapatkan penghasilan dari YouTube, mungkin sekitar lima tahun terakhir. Saya memiliki beberapa channel YouTube lain dengan format panjang, seperti channel edukasi ini dan beberapa channel tutorial berbahasa Inggris yang sampai sekarang masih berjalan baik. Namun, saya sedang mencoba peruntungan dengan YouTube Shorts karena melihat potensi besarnya.
Jika Anda ingin tahu alasan saya memulai vlog YouTube ini, Anda bisa menonton video pertama saya. Cari saja di channel ini dengan judul "YouTube Shorts YTS" atau seri vlog 1, 2, 3, dan 4.
Dilema Content Creator
Salah satu poin utama dalam vlog kelima ini adalah "dilema content creator", sebuah masalah yang sudah saya pahami sejak awal terjun ke dunia YouTube. YouTube memang platform yang unik. Sulit disebut media sosial sepenuhnya, karena hampir semua orang punya Instagram atau TikTok dan bisa mengunggah konten sesuka hati. Namun, tidak semua orang mau mengunggah konten di YouTube.
Intinya, dilema content creator ini adalah: mengedit konten dengan serius belum tentu menghasilkan performa yang lebih baik daripada konten yang diedit asal-asalan. Sementara itu, YouTuber-YouTuber terkenal dengan jutaan subscriber sudah pasti memiliki kualitas editing yang luar biasa, sebut saja Mr. Beast atau YouTuber Indonesia yang punya tim editing sendiri. Bahkan, YouTuber individu dengan lebih dari 100.000 subscriber biasanya sudah melakukan heavy edits atau editing serius.
Ini adalah dilema besar, terutama bagi content creator baru. Jika saya mengedit serius, views belum tentu bagus, tapi kalau mengedit asal-asalan, hasilnya akan jelek. Lima tahun lalu, saya berpikir, "Ya sudah, kalau begitu tanpa editing saja." Sampai sekarang, untuk channel ini, saya tidak terlalu banyak melakukan editing berat.
Saya akan berikan contoh nyata dari YouTube Shorts saya. Saya membuat video infografis standar tentang One Piece berdurasi 6 detik. Ini saya bahas di vlog ketiga, dan alhamdulillah mendapatkan 16.000 views. Lalu, beberapa hari lalu, saya mengunggah video tentang One Piece juga, dengan editing yang sangat serius. Video akhirnya berdurasi 47 detik, tapi proses editingnya memakan waktu satu setengah jam. Hasilnya? Hanya 1.200 views.
Padahal, video 6 detik tadi editingnya tidak sampai 15 menit. Bandingkan dengan video 1,5 jam editing yang hasilnya jauh lebih rendah. Ini sungguh tidak adil. Usaha yang saya curahkan tidak sebanding lurus dengan hasil yang didapatkan. Ini memang dilema content creator sejak lama.
Jadi, jika Anda baru memulai sebagai content creator, baik faceless maupun dengan menunjukkan wajah, Anda harus siap menghadapi kenyataan ini. Terkadang, konten yang diedit serius justru kalah performa dengan konten yang diedit biasa saja. Itu adalah fakta.
Meningkatkan Efisiensi Editing dengan Meme Pack
Dulu, saya mencoba melakukan editing serius, dan yang paling memakan waktu adalah mencari footage, seperti memes, broll, atau efek suara. Ini sangat sulit. Akhirnya, saya punya ide untuk membeli meme pack. Saya membelinya di Shopee dengan harga sangat terjangkau, hanya Rp14.000.
Sebenarnya, Anda bisa mengunduh meme pack ini secara gratis dengan mencari di Google, karena ada banyak sekali. Tapi, saya malas memilih dan mengumpulkannya. Jadi, saya putuskan untuk membelinya. Dengan meme pack ini, saya harap waktu editing yang tadinya 1,5 jam bisa berkurang menjadi 45 menit untuk video klip seperti yang saya tunjukkan tadi. Saran saya, daripada Anda membuang waktu mencari dan mengumpulkan sendiri, lebih baik beli saja. Harganya sangat murah dan tidak sebanding dengan waktu yang akan Anda hemat.
Mempertimbangkan Ulang YouTube Shorts Affiliate
Poin selanjutnya adalah keputusan saya untuk menghentikan fokus pada YouTube Shorts Affiliate. Sebelumnya, saya memiliki tiga channel yang saya seriusi: channel tentang One Piece ini (GR One Piece) yang baru memiliki 29 subscriber, channel brand lama saya yang sudah termonetisasi (tapi revenue Adsense-nya hanya sekitar Rp6.000), dan channel afiliasi Shopee.
Dari program afiliasi Shopee di YouTube Shorts, estimasi revenue saya hanya sekitar Rp2.300. Ini membuat saya berpikir, jika ingin mendapatkan Rp3 juta sebulan, saya harus mengalikannya 1.000 kali. Tentunya, usaha yang dibutuhkan juga akan 1.000 kali lipat, dan ini terasa tidak masuk akal.
Bagi saya, mendapatkan uang dari YouTube AdSense di Indonesia, terutama untuk revenue yang signifikan, memang cukup kecil. Oleh karena itu, saya sudah lama mengelola beberapa channel YouTube untuk audiens luar negeri. Contohnya, channel yang sedang Anda tonton ini saja memiliki revenue sekitar Rp550.000 dalam 30 hari terakhir. Tapi, untuk penjualan produk lain, penghasilan saya jauh di atas ini.
Saya juga punya channel YouTube berbahasa Inggris yang penghasilan AdSense-nya sekitar Rp2 juta per bulan. Saya memiliki sekitar empat channel seperti ini, dan yang tertinggi bisa mencapai total sekitar Rp30 jutaan per bulan dari YouTube AdSense. Namun, ini semua didominasi oleh audiens luar negeri, terutama Amerika Serikat.
Melihat kondisi ini, kemungkinan besar saya akan "cut loss" atau menghentikan upaya serius dalam YouTube Shorts Affiliate di Indonesia. Saya merasa tidak ada titik cerah untuk mendapatkan penghasilan signifikan dari sana.
Perjuangan Melawan Shadow Ban pada Channel yang Dibeli
Terakhir, saya ingin berbagi tentang channel ketiga yang sedang saya seriusi. Saya membeli channel ini dalam kondisi sudah termonetisasi, namun ternyata masih terkena shadow ban. Ini sudah saya sampaikan di vlog pertama.
Setelah membeli, saya langsung mengganti foto profil dengan foto saya. Namun, setiap saya mengunggah YouTube Short, views-nya sangat kecil, bahkan ada yang nol. Saya tetap mengunggah konten dengan tujuan "yang penting upload dulu".
Saya mendengar tips dari YouTuber lain bahwa jika channel YouTube Shorts terkena shadow ban, penting untuk mengunggah konten original, bukan konten AI atau kompilasi komentar seperti yang tadi. Jadi, saya mengunggah footage-footage original seperti video saya berolahraga sore, menunjukkan setup kerja saya, atau membuat video tentang national item Australia dan Togo, yang saya kira akan ramai menjelang hari kemerdekaan kedua negara tersebut. Ternyata tidak juga.
Intinya, channel yang saya beli ini (asalnya channel India) masih terkena shadow ban. Ada dua tips yang konon berhasil untuk memulihkan channel dari shadow ban: pertama, akun tersebut harus rajin menonton YouTube, melakukan like, dan subscribe selama seminggu. Ini sudah saya lakukan. Kedua, mengunggah konten original. Sampai saat ini, channel tersebut belum sembuh dari shadow ban.
Jadi, itu saja pembaruan dari saya, Ghani Rozaqi, tentang perjalanan YouTube Shorts ini. Ke depannya, saya kemungkinan akan tetap melanjutkan mengklip konten One Piece untuk channel GR One Piece, serta terus mengunggah konten original untuk channel yang terkena shadow ban agar segera pulih. Semoga blog post ini bermanfaat dan bisa menjadi teman bagi Anda yang juga sedang berjuang di YouTube Shorts. Saya tidak tahu akan sampai vlog ke berapa ini, tapi ini memang sebuah reality show perjalanan saya di YouTube. Untuk update lainnya, kunjungi selalu ghanirozaqi.com.

0 Response to "Update Vlog YouTube Shorts: Dilema Kreator, Monetisasi, dan Perjuangan Melawan Shadow Ban"
Posting Komentar