Kali ini, saya ingin membahas hal yang sering menjadi perdebatan: produk bagus tapi pasarnya kecil. Mungkin banyak dari Anda yang berada di situasi ini. Apakah ini area yang bagus atau jelek? Sebetulnya, itu relatif. Baik atau buruk itu kan subjektif. Apa itu 'produk bagus'? Setiap orang punya definisi sendiri. Ada yang bilang bagus, ada yang tidak. Ada yang bilang keren, ada yang tidak. Ada yang bilang bermanfaat, ada yang tidak.
Menurut saya, ada sebuah produk yang sangat bagus, tapi pasarnya memang kecil. Saya ingin menjadikan kartun anak berjudul 'I'm the Best Muslim' sebagai studi kasus. Jika Anda belum tahu, kartun ini memiliki akun Instagram dengan 85.000 pengikut. Sementara itu, kanal YouTube-nya, yang bernama Free Quran Education Indonesia, memiliki hampir satu juta subscriber. Luar biasa, bukan?
Saya menilai kartun ini sangat bagus, sungguh! Alur ceritanya keren, tidak seperti konten remeh lainnya. Mereka mengemas hal-hal sederhana menjadi cerita yang menarik. Cara mereka menyoroti suatu hal juga sangat inovatif. Visualnya pun unik, di luar kebiasaan. Karakter-karakternya tidak memiliki leher; mereka seolah melayang. Jika penasaran, coba cek kartunnya, sangat cocok untuk anak-anak. Selain itu, kartun ini bilingual dan memiliki visi global. Setahu saya, selain dangdut, belum banyak kartun Indonesia yang mampu go global. Semoga saya salah, tapi 'I'm the Best Muslim' ini juga tersedia dalam versi bahasa Inggris. Keren sekali! Saya sangat mengapresiasi 'I'm the Best Muslim' ini, tapi sayangnya pasarnya tergolong kecil. Dari sekian banyak kartun anak muslim, saya khawatir kartun ini juga akan bernasib sama dengan yang lain.
Mengapa? Mari kita lihat sejarahnya. Ketika saya mencari 'I'm the Best Muslim' di Google, saya menemukan kartun serupa di sebelahnya: Omar & Hana serta Nussa. Keduanya sudah 'tewas' atau berhenti produksi. Omar & Hana berasal dari Malaysia, saya kurang tahu persis nasibnya. Namun, Nussa saya ingat betul saat mereka mengumumkan untuk tidak lagi membuat konten edukasi anak muslim. Omar & Hana 'tewas', Nussa 'tewas'. Akankah 'I'm the Best Muslim' juga 'tewas'? Sungguh disayangkan.
Saya berkata demikian karena postingan terakhir Instagram mereka adalah 10 Maret, dan YouTube-nya 8 April. Memang belum terlalu lama, tapi intensitasnya berkurang drastis. Postingan YouTube terakhir adalah 43 hari yang lalu. Intensitasnya memang sangat menurun. Saya pernah melihat salah satu video mereka yang menggalang donasi karena biaya operasionalnya memang tidak murah. Saya membayangkan, proses rendering, gaji para talenta (animator atau videografer — meskipun sekarang era AI, kemampuan AI untuk menyamai editing manual masih jauh), perangkat keras seperti rendering device, speaker, mikrofon, dan aset-aset digital lainnya pasti membutuhkan biaya besar. Saya yakin mereka tidak akan membajak aset karena itu akan menjadi hipokrit. Mereka mungkin menggunakan efek suara gratis atau membuat sendiri. Yang jelas, biaya produksinya sama sekali tidak murah. Jadi, akankah 'I'm the Best Muslim' juga 'tewas'?
Ini adalah salah satu upaya saya. Jujur, ketika saya melihat video mereka yang menggalang dana, saya tidak langsung transfer. Entah mengapa, hati saya tidak tergerak. Kartunnya bagus, tapi ketika diajak donasi, saya merasa ada sesuatu yang kurang. Jadi, saya akui saya belum transfer. Oleh karena saya belum bisa mendukung secara finansial, saya ingin mendukung 'I'm the Best Muslim' dengan membuat artikel ini. Semoga dari sini ada satu atau dua orang yang tergerak untuk berdonasi agar 'The Best Muslim' bisa terus berkarya. Bagi yang belum, coba cek 'The Best Muslim'. Kartun edukasi anak ini menurut saya, sesuai namanya, memang yang terbaik.
Saya ingin memberikan 'komentar sombong' saya. Jika saya berada di posisi mereka, ada dua hal yang mungkin saya lakukan. Bisa jadi mereka sudah melakukan ini, tapi kurang berhasil, saya tidak tahu. Intinya, ini adalah dua 'komentar sombong' saya untuk 'I'm the Best Muslim'. Ini bisa jadi kritik atau saran, atau mungkin juga bisa menjadi insight bagi teman-teman lain yang tidak berkecimpung di dunia kartun atau media.
1. Mencari Sumber Pendapatan Lain (Revenue Stream)
Intinya, 'I'm the Best Muslim' sudah punya media dan audiens. Mereka tidak harus selalu menjual konten atau hanya mengandalkan pendapatan dari iklan. Saya pribadi juga mengalami hal serupa. Fokus utama saya jualan di Shopee, tapi dari 'angle' Shopee, saya punya banyak sumber pendapatan lain. Saya membuat konten, berjualan, mengadakan sesi 'ngobrol santai', menjual produk digital, hingga kelas. Dari satu objek, yaitu Shopee, saya bisa mendapatkan beberapa aliran pendapatan dari ekosistemnya.
Begitu juga dengan kartun muslim. Objeknya adalah kartun muslim, maka seharusnya ada banyak sumber pendapatan lain. Misalnya, berjualan produk lain seperti sekolah, fashion (gamis, jilbab, atau apapun), atau produk digital. Mereka sudah memiliki 'eyeballs' atau penonton yang, di era sekarang, adalah 'mata uang' yang berharga. Selain kripto, views atau 'eyeballs' juga merupakan jalur untuk mendapatkan uang.
Sumber pendapatan lain bisa berupa jualan kurban, akikah, atau endorsement. Saya pribadi belum menemukan video mereka yang di-endorse oleh suatu brand. Mungkin saya yang kurang menonton, karena anak saya yang lebih sering menonton.
Terkait endorsement, ada tips menarik yang belum saya lakukan juga. Saya pernah bertemu seorang TikToker terkenal secara personal di Tasik. Dia bilang, daripada menunggu bola, lebih baik menjemput bola, alias 'pitching'. Jika Anda seorang content creator, sah-sah saja mendatangi suatu brand dan mempresentasikan: "Saya punya ini, followers saya segini, audiens saya seperti ini, saya ingin membuat konten ini. Apakah Anda bersedia membayar saya?" Itu sangat sah dalam berbisnis, karena mungkin saja Anda atau saya tidak berada dalam radar brand tersebut. Jadi, mendekati atau 'jemput bola' itu penting. Saran ini secara konsep bagus, tapi eksekusinya memang masih saya pikirkan.
Jadi, menjual produk lain tidak ada salahnya. Begitu juga bagi Anda yang berjualan di Shopee atau TikTok. Jangan hanya fokus pada jualan utama. Coba cari 'angle-angle' lain. Misalnya, menawarkan tim Anda untuk membuat konten bagi orang lain, atau menawarkan penggunaan gudang atau admin Anda. Ada banyak ide lain, dan jika tidak dicoba, tentu tidak akan berhasil. Apalagi jika sudah dicoba pun belum tentu berhasil, apalagi jika tidak dicoba sama sekali.
Saya sangat menyarankan Anda untuk menjual produk lain atau mencari sumber pendapatan lain dari ekosistem yang sama. Ini yang saya lakukan, dan alhamdulillah sampai saat ini berjalan baik. Contohnya, saya menjual bootcamp 'Ternak Toko' selama 8 pekan yang materinya terfokus pada membangun banyak toko. Kami juga membangun komunitas 'Sindikat Dropship' yang berpartner. Ini adalah tentang membangun ekosistem, bukan sekadar penjualan sekali jadi. Hal ini patut Anda contoh karena memang itulah kenyataannya. Saya sudah tahu hal ini sejak lama, dan mempraktikkannya memang tidak mudah, mendapatkan hasilnya juga tidak mudah.
Jadi, cobalah cari 'angle' lain dalam ekosistem yang sama. Bagi penjual gamis, jeans, atau kaos, tetaplah di area produk tersebut, tetapi coba cari 'revenue stream' yang berbeda.
2. Personal Branding
'Komentar sombong' kedua saya adalah tentang personal branding. Saya sempat melihat ada Pak Ustaz atau guru yang muncul saat penggalangan donasi, tapi itu hanya sekali. Menurut saya, tidak ada salahnya untuk membangun personal branding, apalagi di era sekarang. Saya bahkan berpikir, membuat konten seharusnya menjadi mata kuliah wajib. Kita hidup di era di mana orang dengan banyak pengikut seringkali dianggap lebih benar daripada orang yang memang ahli di bidangnya.
Saya berangan-angan, suatu saat nanti para profesor, pemegang gelar PhD, atau orang-orang yang memiliki keahlian khusus akan memiliki kanal YouTube atau media mereka sendiri. Memang sudah ada, tapi jumlahnya masih sedikit. Membuat konten sering dianggap sebagai 'tidak punya pekerjaan' oleh sebagian orang, padahal seharusnya kita semua bisa 'bertarung' di ranah perkontenan ini. Bagi akademisi atau orang yang punya keahlian, konten adalah sarana untuk menyampaikan kebenaran kepada banyak orang.
Jadi, personal branding itu sangat penting. Dalam kasus 'The Best Muslim', membangun personal branding mungkin layak dicoba. Seperti kata pepatah, kalau dicoba saja belum tentu berhasil, apalagi tidak dicoba sama sekali, bukan?
Jadi, saran saya untuk Anda semua, mulailah membangun personal branding dari sekarang. Tidak peduli apa pun 'angle' Anda: pelatih sepak bola, pembuat kaos, penjahit, coba saja bangun personal branding. Nanti lama-lama Anda akan menemukan dari mana sumber pendapatannya, dari mana uangnya akan datang. Tapi memang, proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi yang luar biasa.
Kita lihat content creator terkenal, mereka sangat konsisten. Tapi mereka konsisten karena sudah merasakan hasilnya. Yang paling berat adalah konsisten ketika kita belum merasakan adanya hasil finansial.
Semoga ada manfaatnya dari ulasan saya ini.

0 Response to "Produk Bagus Tapi Pasar Kecil? Pelajaran dari Kartun Anak 'I'm the Best Muslim'"
Posting Komentar