My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Strategi Menghadapi Akhir Panen Raya: Pilih Libur Toko, Pre-Order, atau Naikkan Ongkir?

Strategi Menghadapi Akhir Panen Raya: Pilih Libur Toko, Pre-Order, atau Naikkan Ongkir?

Menjelang akhir panen raya seperti saat ini—tepatnya di pertengahan Maret 2026—banyak sekali rekan-rekan seller yang bertanya kepada saya mengenai strategi operasional toko. Pertanyaannya biasanya berkisar pada: lebih baik toko diliburkan, stok dibuat nol, di-set Pre-Order (PO), atau ongkirnya saja yang dimahalkan agar orang tidak jadi beli?

Masalah ini hampir tiap tahun saya bahas, dan kali ini saya ingin kembali berbagi pandangan pribadi saya mengenai mana pilihan yang paling masuk akal. Tentu saja, gaya bisnis tiap orang berbeda-beda, namun saya akan menjelaskan mengapa saya mengambil keputusan tertentu berdasarkan pengalaman saya di ghanirozaqi.com.

Hindari Menolkan Stok atau Menaikkan Ongkir

Pilihan pertama yang sangat tidak saya rekomendasikan adalah membuat stok menjadi nol atau sengaja menaikkan biaya ongkir agar pelanggan batal membeli. Mengapa demikian? Karena platform online mana pun, baik itu Shopee, TikTok, maupun Instagram, sangat mengapresiasi yang namanya Conversion Rate (tingkat konversi).

Algoritma platform akan melihat seberapa efektif toko Anda mengubah pengunjung menjadi pembeli. Sebagai ilustrasi, bayangkan ada Seller A dan Seller B yang sama-sama diberikan trafik sebesar 1.000 pengunjung oleh Shopee. Jika Seller A hanya menghasilkan 20 penjualan sedangkan Seller B menghasilkan 500 penjualan, maka algoritma akan lebih condong memberikan trafik terus-menerus kepada Seller B.

"Jika stok Anda nol atau ongkir dibuat tidak masuk akal, orang yang sudah tertarik (sudah Add to Cart) tidak akan bisa melakukan checkout. Hal ini akan membuat konversi toko Anda menjadi nol persen, dan itu adalah sinyal buruk bagi algoritma."

Pilihan Antara Libur Toko atau Pre-Order

Jika Anda tidak bisa mengirimkan barang tepat waktu karena libur lebaran, pilihannya tinggal dua: fitur Libur Toko atau mengaktifkan Pre-Order. Sebelum memilih, Anda perlu mengecek kemampuan tim. Misalnya, apakah pada tanggal 25 Maret nanti Anda sudah bisa mulai mengirim pesanan kembali?

Di Shopee sendiri, ada kebijakan di mana jika kita libur kurang dari 7 hari, toko masih bisa menerima pesanan. Jadi, jika Anda hanya libur sebentar dan bisa kembali beroperasi pada 1 April, mengaktifkan mode libur adalah pilihan yang aman. Namun, jika Anda ingin menjaga agar trafik tetap ada dan pesanan terus masuk meskipun pengirimannya tertunda, pilihan Pre-Order (PO) bisa diambil.

Bagi saya pribadi, saya lebih memilih untuk mengaktifkan fitur Libur Toko. Mengapa? Agar liburan saya lebih tenang dan saya bisa menjaga kesehatan mental (agar tetap waras) dalam memikirkan strategi jangka panjang. Memang risikonya saat toko dibuka kembali orderan mungkin mulai dari nol lagi, tapi bagi saya itu tidak masalah demi ketenangan pikiran.

Bagaimana Dengan Iklan?

Banyak juga yang bertanya, "Kalau produk di-set PO, iklannya tetap dijalankan atau tidak?". Menurut saya, silakan saja tetap beriklan jika ingin menjaga traffic, namun perhatikan biayanya. Saat ini biaya iklan minimal sekitar Rp25.000 per hari. Dulu mungkin hanya Rp5.000, sehingga kalaupun rugi atau "boncos" dalam sebulan, pengeluarannya masih terukur.

Jika biaya Rp25.000 per hari dirasa terlalu berat saat kondisi operasional sedang tidak maksimal, sebaiknya matikan saja dulu iklannya. Nanti setelah tim sudah lengkap dan status PO sudah dicabut, barulah gas lagi iklannya dengan kekuatan penuh.

Kesimpulannya, setiap pilihan ada konsekuensinya. Pilihlah yang paling sesuai dengan kapasitas tim dan kenyamanan Anda dalam berbisnis. Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk teman-teman semua.

0 Response to "Strategi Menghadapi Akhir Panen Raya: Pilih Libur Toko, Pre-Order, atau Naikkan Ongkir?"

Posting Komentar