My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Realita Margin Bisnis Online & Kapan Harus Stop Iklan Auto

Realita Margin Bisnis Online & Kapan Harus Stop Iklan Auto

Halo semuanya! Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, kita bisa kembali berbagi cerita di ghanirozaqi.com. Mohon maaf sebelumnya karena saya sempat libur nulis beberapa hari ke belakang. Suasananya sedang seru-serunya, apalagi kita baru saja melewati panen raya Lebaran 2026 ini.

Kali ini saya ingin merangkum obrolan dari forum diskusi harian yang biasa saya adakan. Mengingat WhatsApp sering kali lama saya balas karena kesibukan, sesi diskusi singkat selama 15 menit ini selalu jadi ruang yang pas untuk menampung curhatan teman-teman seputar bisnis *online*.

Kapan Harus Berhenti Pakai GMV Max Auto?

Topik pertama datang dari Mas Imam yang bertanya tentang penggunaan iklan untuk produk baru, khususnya fitur GMV Max Auto. Pertanyaannya sederhana tapi krusial: seberapa lama kita harus membiarkan iklan berjalan di mode GMV Max Auto sebelum akhirnya mengubahnya ke pengaturan ROAS (Return on Ad Spend)?

Jujur saja, untuk produk yang benar-benar baru, saya pribadi sudah tidak pernah menggunakan mode otomatis. Rasanya terlalu "perih" di kantong. Lalu, sampai kapan kita harus menahannya kalau sudah terlanjur pakai? Jawabannya kembali pada batas keikhlasan dompet masing-masing.

Kalau standar saya begini: jika sudah ada 100 pengunjung yang masuk ke halaman produk namun tidak ada satu pun yang melakukan ATC (Add to Cart), maka lebih baik iklannya dimatikan. Wajar jika belum ada yang beli karena produk baru biasanya belum punya ulasan (bintang). Tapi, kalau sudah 100 pengunjung dan bahkan tidak ada yang memasukkan produk ke keranjang, mending arsipkan saja produk tersebut. Setelah itu, lakukan evaluasi menyeluruh seperti biasa.

Apakah Margin Bersih 20% Masih Realistis?

Di tengah obrolan, saya sempat menanyakan kabar penjualan teman-teman. Tentu saja, buat yang berjualan produk khusus momen Lebaran, ini adalah masa-masa panen. Tapi kalau bukan produk Lebaran, ya wajar kalau agak sepi. Sempat ada Mas Rahmat Putra yang ingin bergabung, tapi karena kendala teknis dan suaranya terlalu kecil, obrolan kami lanjutkan ke penanya berikutnya.

Topik menarik selanjutnya datang dari Mas Ilham. Ia penasaran, dari pengalaman saya mengelola toko sendiri maupun melihat toko orang lain di Shopee dan TikTok, apakah mengambil margin bersih 20% itu masih realistis saat ini?

Saya balik bertanya, "bersih" di sini maksudnya bagaimana? Jika yang dimaksud adalah 20% setelah dikurangi biaya admin, PPN, dan biaya iklan, maka angka itu masih sangat realistis. Namun, jika margin 20% itu dihitung setelah dikurangi biaya overhead operasional sehari-hari—seperti gaji sendiri, biaya kontrakan, uang kopi, galon, dan lain-lain—maka itu sangat tidak realistis. Terus terang saja, mengejar profit bersih 10% dengan perhitungan seperti itu saja kadang sudah ngos-ngosan.

Meski begitu, mendapat margin 20% bukanlah hal yang mustahil. Semuanya sangat bergantung pada momen. Misalnya, di momen Lebaran kemarin, margin saya kebetulan bisa menyentuh angka 25%. Tapi ingat, kondisi ini tidak terjadi sepanjang tahun. Sebagai perbandingan, di bulan Januari sebelumnya saya sempat minus atau rugi hingga 10%. Bulan-bulan sepi seperti itu biasanya saya gunakan sebagai momen untuk "nabung data" dan memantau produk mana yang punya potensi. Jadi, margin 20% itu masih bisa dicapai, meski jalannya perlu bertahap.

Fokus Pada Profit, Bukan Sekadar Omset

Melihat antusiasme dan kondisi teman-teman, saya bisa menyimpulkan bahwa bisnis online saat ini masih berjalan cukup baik. Sekali lagi, selamat menikmati panen raya bagi teman-teman yang sedang kebanjiran pesanan.

Namun, saya punya satu pesan penting: pastikan bisnis Anda benar-benar menghasilkan profit! Jangan hanya terlena melihat tumpukan paket yang menggunung atau deretan angka omset yang besar. Hati-hati, omset besar belum tentu sejalan dengan profit yang besar. Kita harus selalu waspada, apalagi biasanya setelah Lebaran usai, kondisi pasar akan terasa makin ngehe alias nyebelin.

Jadi, amankan profit Anda baik-baik. Siapkan dana tersebut mungkin untuk modal berjualan hal lain ke depannya atau sebagai bantalan operasional di bulan-bulan sepi. Tetap semangat dan sampai jumpa di catatan berikutnya!

0 Response to "Realita Margin Bisnis Online & Kapan Harus Stop Iklan Auto"

Posting Komentar