My Sticky Gadget

Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Shopee dan TikTok Bukan Masa Depan? Alasan Saya Mulai Serius Mendalami AI

Shopee dan TikTok Bukan Masa Depan? Alasan Saya Mulai Serius Mendalami AI

Bagi saya, Shopee atau TikTok mungkin bukan masa depan. Pernyataan ini mungkin terdengar kontroversial, terutama bagi Anda yang saat ini sedang menikmati profit dari kedua platform tersebut. Ya, kita memang bisa mendapatkan keuntungan di sana sekarang, dan bagi yang belum profit, itu sebenarnya sudah menjadi sebuah peringatan dini.

Namun, mari kita bicara tentang masa depan. Bukan hanya tahun depan atau dua tahun lagi, tapi masa depan di mana teknologi berkembang jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Saat ini AI (Artificial Intelligence) sedang ramai diperbincangkan, dan saya yakin ini baru permulaan. Perubahannya dalam dua tahun terakhir saja sudah luar biasa, apalagi jika nanti quantum computing sudah masuk ke dalam permainan. Itu akan menjadi game changer yang sesungguhnya.

Posisi Kita Hanyalah Pedagang, Bukan Pemilik Brand

Mengapa saya agak skeptis menggantungkan masa depan sepenuhnya pada marketplace? Kalau kita hanya bermain di level "aplikator" (pengguna aplikasi), kita tidak membangun brand. Kita hanya sekadar pedagang.

Kunci masalahnya ada pada posisi tawar atau bargaining power. Di hadapan aplikator, posisi kita itu absolut; kita tidak punya kendali. Mau admin fee naik, mau aturan berubah, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Kita tidak punya posisi tawar yang kuat. Meskipun Alhamdulillah sejauh ini rezeki saya banyak mengalir dari Shopee—dan dulu sempat main di TikTok juga—namun secara konsep bisnis jangka panjang, ini mengkhawatirkan.

Saya sering berpikir, kalau model bisnis saya tetap begini-begini saja, rasanya tidak mungkin cukup untuk membiayai kuliah anak nanti. Biaya kuliah puluhan juta per semester, belum lagi biaya ngekos dan kendaraan, rasanya sulit tertutup jika hanya mengandalkan dagang di marketplace tanpa evolusi.

"Masa depan itu misteri. Mungkin saja nanti dengan AI jualan di Shopee jadi lebih mudah, atau justru sebaliknya: semua toko dijalankan oleh AI langsung dari Cina. Wallahualam."

AI Adalah "Wake Up Call"

Yang jelas, masa depan akan sangat bergantung pada AI. Jika hari ini Anda menggunakan ChatGPT hanya untuk curhat, Anda sudah tertinggal. Apalagi jika Anda belum pernah menyentuh ChatGPT atau Gemini sama sekali, itu bisa gawat.

Oleh karena itu, saya ingin mengajak teman-teman untuk bangun. Ini adalah wake up call. Mulailah mengulik AI. Jangan sampai kita melewatkan kesempatan besar ini selagi masih diberi usia.

Inisiasi "Club Aing" di Bandung

Karena kesadaran itulah, saya menginisiasi sebuah forum offline di Bandung yang saya beri nama Club Aing. Namanya memang sedikit plesetan dari bahasa Sunda, tapi tujuannya serius.

Di Club Aing, konsepnya bukan satu orang pintar mengajari yang lain, tapi kita belajar bersama dari nol. Kita berkumpul, melakukan Googling bareng, mencari tahu tentang tools baru, lalu saling berbagi (sharing) apa yang kita temukan. Kita pernah membahas Helium 10, lalu berubah membahas Gemini, dan topiknya akan terus berganti sesuai dinamika teknologi.

Poin utamanya adalah saya ingin terus belajar. Belajar sendiri lewat YouTube memang bisa, tapi seringkali kita bingung pada tataran praktik atau use cases-nya. Bagaimana cara menggunakan AI ini untuk kebutuhan komersial? Kalau cuma untuk seru-seruan, semua orang bisa. Tapi sebagai pebisnis, kita perlu membedah blind spot masing-masing agar bisa menemukan celah komersialisasinya.

Jadi, bagi saya pribadi, AI adalah masa depan yang harus dikejar, sementara marketplace adalah tempat kita mencari profit hari ini yang harus terus disyukuri, namun tetap waspada akan perubahannya.

0 Response to "Shopee dan TikTok Bukan Masa Depan? Alasan Saya Mulai Serius Mendalami AI"

Posting Komentar