My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Hati-hati Terjebak Omset: Mengapa Saya Malah Rugi Meski Penjualan Ratusan Juta

Hati-hati Terjebak Omset: Mengapa Saya Malah Rugi Meski Penjualan Ratusan Juta

Seringkali kita merasa senang saat melihat angka omset yang besar di dasbor toko. Katakanlah pada Januari 2026 ini, omset saya menyentuh angka yang lumayan. Secara sekilas, mungkin terlihat ada keuntungan sekitar Rp42 Juta. Namun, apakah angka itu benar-benar masuk ke kantong saya? Belum tentu.

Setelah saya bedah lebih dalam, ternyata realitanya jauh berbeda. Di catatan toko, keuntungan kotor atau Gross Profit Minus Iklan (GPMI) saya memang tercatat Rp5 Juta. Tapi angka ini masih menipu karena ada variabel lain yang sering terlupakan.

Kelemahan Data Default dan Jebakan Biaya Iklan

Masalah utama yang sering saya temui adalah laporan bawaan dari tools manajemen toko seperti BigSeller terkadang memiliki kelemahan. Ada angka-angka yang tidak keluar secara otomatis, seperti PPN iklan yang jumlahnya bisa sangat signifikan. Di kasus saya, biaya iklan mencapai Rp36 Juta, ditambah lagi PPN iklan yang menyentuh angka jutaan rupiah sendiri.

Karena merasa laporan bawaan kurang akurat, saya mencoba menjalankan data tersebut menggunakan tools buatan saya sendiri. Hasilnya cukup mengejutkan:

  • Omset Januari: Terlihat besar di awal.
  • Biaya Iklan: Sangat tinggi (sekitar Rp36 Juta).
  • Profit Riil: Ternyata hanya sisa Rp1,4 Juta.

Bayangkan, dengan sisa Rp1,4 Juta, saya bahkan belum membayar gaji saya sendiri, gaji istri, karyawan, hingga biaya kontrakan. Kesimpulannya? Bulan Januari ini saya sebenarnya rugi.

Pelajaran dari Data Desember dan Agustus

Kondisi ini tidak jauh beda dengan Desember lalu. Awalnya terlihat ada untung Rp10 Juta, tapi setelah dihitung ulang dengan memasukkan variabel PPN dan biaya operasional lainnya, angkanya merosot tajam. Untungnya masih bisa sedikit menutup gaji karyawan, meski gaji saya sendiri tetap tidak ketutup.

Namun, ceritanya berbeda saat bulan Agustus. Sebagai pemburu tren, saya mencatatkan hasil yang jauh lebih baik. Meskipun di dasbor terlihat untung Rp84 Juta, setelah dikoreksi dengan tools saya, profit bersihnya berada di angka Rp68 Juta. Angka GPMI saya berada di kisaran 17%, yang setelah dipotong gaji dan lain-lain, masih tersisa sekitar 8%.

"Kalau kita tidak memantau data secara teliti, bisnis kita bisa terus minus tanpa kita sadari. Atau sebaliknya, saat sedang untung besar, kita kehilangan momentum untuk scale up karena tidak tahu angka pastinya."

Persiapan Menjelang Lebaran 2026

Menjelang Lebaran 2026, saya yakin market akan naik dan paket kiriman akan melimpah. Namun, fokus kita seharusnya bukan lagi pusing memikirkan iklan yang boncos atau tidak jalan. Fokus utama harus beralih ke optimasi profit.

Agar hasil maksimal, semuanya harus terukur. Jangan hanya percaya pada angka di Seller Center yang terkadang terasa "gombal" karena hanya menampilkan omset, bukan profit bersih yang sudah dikurangi berbagai biaya hiden.

Saya ingin berbagi cara menyusun data ini secara rapi, mulai dari setup data hingga penggunaan tools penyempurna yang saya gunakan. Saya membuka Mini Bootcamp yang fokusnya adalah praktik penuh, bukan sekadar teori.

Saat ini slot preorder dengan harga Rp1 Juta tinggal tersisa dua orang lagi sebelum harganya naik menjadi Rp2 Juta. Saya sengaja membatasi jumlah peserta agar proses pendampingan dan pemantauan hasilnya bisa lebih fokus dan tidak pusing karena terlalu banyak pertanyaan.

Bagi yang ingin serius membenahi keuangan tokonya agar lebih transparan dan terukur, silakan langsung hubungi saya melalui grup WhatsApp untuk pendaftaran.

0 Response to "Hati-hati Terjebak Omset: Mengapa Saya Malah Rugi Meski Penjualan Ratusan Juta"

Posting Komentar