My Sticky Gadget

Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Ketua Himpunan di ITB

1 hal yang masih sering terbayang oleh saya dan saya syukuri hampir tiap hari adalah kesempatan saya pernah menjadi ketua himpunan di ITB. Tahun 2011/2012 saya jadi ketua himpunan (kahim) dari Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan ITB (KMKL-ITB). 1 tahun jadi kahim ini adalah momen yang ter-"down" dan ter-indah yang pernah saya alami.

kahim KMKL ITB
saya saat jadi kahim di KMKL-ITB (2012)


Ini beberapa manfaat atau kenangan yang bisa saya share tentang jadi kahim di ITB:

Setiap tahun hanya 26 orang

Jadi kahim itu bukan hanya keren, tapi kesempatan yang ga semua orang bisa dapatkan. Kesempatan emas untuk belajar, menempa diri, dan masih banyak lagi. Dulu waktu saya kuliah, himpunan itu ada 26, jadi setiap tahun hanya 26 orang yang berkesempatan untuk jadi kahim dibandingkan jumlah mahasiswa yang ribuan.. keren banget kan? makannya saya bisa jamin, jika seseorang pernah jadi kahim, pasti ada hal yang spesial dalam dirinya.

IP tertinggi saat jadi kahim

Waktu sy tingkat 1, IP saya nyaris di bawah 2, alias mepet mepet kelulusan. Dan memang kala itu saya ga ada niat juga sih untuk terlalu berprestasi, alias masih suka main. Pas jadi kahim, karena teruntut untuk menjadi pemimpin yang jadi contoh, saya dipaksa sukarela untuk rajin kuliah dan rajin belajar. Hasilnya IP saya saat jadi kahim nyaris 4! IP tertinggi selama masa studi saya di ITB!

Public Speaking

Nah ini paling kerasa banget. Dulu sih di ITB sering ada forum forum kajian, orasi orasi, ospek, yang mengharuskan kahim untuk berbicara di muka umum. Kadang 1 arah (orasi) kadang 2 arah (diskusi). Saya belajar public speaking otodidak, belajar ke senior, dan belajar ke kahim lainnya.

Saya masih ingat, saya pernah berbicara di depan (mungkin) 10rb orang di Plaza Widya ITB. Karena waktu itu ITB sedang berkabung, karena salah satu anggota himpunan saya (Angelina Yovanka) tertimpa kecelakaan rafting. Ini adalah momen tersedih selama saya di kampus, sekaligus pengalaman yang tidak pernah tergantikan. Kala itu kami bahu membahu untuk membentuk rescue team, saya sebagai Kahim tentu ambil porsi yang tidak sedikit, mengkolaborasikan Pecinta Alam, SAR, dan mahasiswa umumnya.

Kalau berbicara di forum untuk diskusi sih udah makanan sehari hari, dan tidak terlalu berkesan. Cuman budaya diskusi di ITB itu saya lihat lebih banyak "ngetes" nya kalau di forum formal. Jadi senior senior itu nanya padahal dia udah tau jawabannya, hanya mau menggiring yang punya forum ke jawabannya dia. Ada yang kesel akan hal ini (biasanya junior), ada yang seneng dengan hal ini karena jadi perploncoan in forum (biasanya senior). hehe. Apakah ini jelek? oh belum tentu, sepertinya ini salah satu yang ngebuat karakter anak ITB itu kritis dan siap berdiskusi

Baca buku

Sebelum jadi kahim, saya sedikit sekali membaca buku, mungkin nyaris ga pernah. Pas mencalonkan diri jadi kahim, saya jadi tertuntut untuk baca buku. Saat jadi kahim juga, banyak buku yang saya lahap. Dan alhamdulillah keterusan sampai sekarang. baca juga: Buku Yang Saya Baca Tahun 2019

==

jadi kesimpulannya, jika anda masih mahasiswa, jangan ragu untuk mencalonkan diri jadi kahim, serius ini berguna banget. Sebenernya masih banyak yang saya mau share soal pengalaman saya jadi kahim, ini aja pas nulis tulisan ini banyak memori2 saya yang berseliweran. Tapi agar supaya tidak terlalu panjang, mungkin saya sambung di PART 2.

0 Response to "Ketua Himpunan di ITB"

Posting Komentar