My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Tanya Jawab Seputar Shopee: Dari Fitur Baru hingga Pajak PPN

Bismillah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman semua. Senang sekali bisa kembali menyapa Anda di forum tanya jawab kali ini. Dalam sesi singkat ini, saya mencoba menjawab pertanyaan dan curhatan dari teman-teman seputar pengalaman berjualan di e-commerce, khususnya Shopee. Mari kita bahas satu per satu.

1. Shopee Ads Affiliate: Bagaimana Cara Kerjanya?

Seorang teman bertanya mengenai fitur Shopee Ads Affiliate yang baru diluncurkan. Sejujurnya, saya belum mencoba fitur ini dan belum ada niat untuk mencobanya dalam waktu dekat.

Namun, sepemahaman saya, fitur ini mirip dengan 'boost post' yang ada di aplikasi Instagram. Jadi, kita mengiklankan video affiliate yang ada. Yang diiklankan itu adalah konten di Instagram atau Facebook, bukan video langsung di Shopee Video.

2. Memahami Gimik Marketing Voucher 50% Maksimal Rp1.000

Ada pertanyaan menarik seputar kampanye promosi di Shopee: "Ada campaign yang potongannya 50%, tapi di bawahnya tertulis maksimal diskon Rp1.000. Mana yang berlaku?"

Ini adalah gimik marketing, teman-teman. Keduanya berlaku. Jadi, voucher atau diskon 50% itu memang ada, tapi dengan batasan maksimal potongan Rp1.000. Di tampilan calon pembeli, akan terlihat "Diskon 50% (maksimal Rp1.000)". Jadi, bukan 50% dari harga jual produk Anda secara mutlak, melainkan 50% dengan batas di angka Rp1.000. Pahami saja sebagai strategi untuk menarik perhatian pembeli.

3. Penjualan Drop di Bulan Oktober (Kategori Mainan)

Seorang teman mencurahkan perasaannya bahwa penjualan di bulan Oktober terasa sangat turun, khususnya untuk kategori mainan. Saya pribadi jarang sekali bermain di kategori mainan. Oleh karena itu, saya tidak bisa memberikan banyak komentar atau saran yang relevan untuk situasi ini. Mohon dimaafkan.

4. Toko Tidak Muncul di Pencarian Tapi Penjualan Stabil

Pertanyaan ini cukup umum: "Toko saya tidak bisa ditemukan di pencarian Shopee, baik menggunakan perangkat saya sendiri maupun perangkat lain, tapi penjualan tetap ada dan stabil. Kenapa ya?"

Ini adalah hal yang wajar. Ada mekanisme cookies dan cache yang diterapkan platform untuk menghindari penjual mencari atau membeli di tokonya sendiri. Jika traffic dan penjualan toko Anda masih bagus, saya sarankan untuk mengabaikannya saja. Tidak perlu terlalu khawatir.

Namun, jika Anda sangat penasaran dan ingin mengecek tampilan toko dari sudut pandang pembeli, Anda bisa coba mencari menggunakan judul produk yang sangat spesifik dan lengkap di perangkat yang belum pernah terhubung dengan akun Shopee atau Wi-Fi Anda. Saya pribadi merasa ini adalah hal yang bagus, teman-teman. Penting bagi kita untuk menyelami sudut pandang dan pengalaman pengguna (UI/UX) calon pembeli. Kalau Anda ingin jago di Shopee, Anda harus sering membuka aplikasi Shopee seperti seorang pembeli.

5. Memahami Pajak PPN untuk Penjual Shopee

Pertanyaan yang cukup sensitif: "Jika omset lebih dari Rp400 juta sampai Rp4,8 miliar, apakah akan kena pajak 11%?"

Angka 11% yang Anda maksud adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN), teman-teman. Secara sederhana, PPN ini memang dihitung 11% dari omset, meskipun dalam praktiknya tidak sesimpel itu. Perlu diingat, ini adalah peraturan pemerintah, bukan peraturan Shopee. Jika omset Anda sudah di atas Rp4,8 miliar per tahun, Anda wajib memungut PPN dan menyetorkannya langsung ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Shopee sendiri tidak memungut PPN ini dari Anda. Jadi, Anda harus melaporkannya sendiri secara langsung. Dulu, banyak UMKM yang berusaha mengakali atau 'kucing-kucingan' dengan PPN karena terasa sangat memberatkan, apalagi jika selisih omsetnya tipis di atas batas Rp4,8 miliar. Potongan 11% bisa sangat menyakitkan. Namun, sekarang dengan adanya PMK 37, data penjualan sudah terintegrasi, sehingga omset di atas Rp4,8 miliar akan lebih mudah terdeteksi. Jadi, hati-hati jika omset Anda sudah mencapai angka tersebut.

6. ROAS Iklan yang Tiba-tiba Turun Drastis Setelah Awalnya Tinggi

Seorang teman bercerita bahwa produk barunya awalnya mendapatkan penjualan organik, kemudian dia beriklan dan ROAS-nya sempat sangat tinggi (36-60), padahal targetnya hanya 12. Namun, beberapa hari kemudian, orderan iklan tiba-tiba nol. Apa penyebabnya?

Ini adalah permainan algoritma iklan, teman-teman. Wajar jika Anda tiba-tiba tidak mendapat orderan, karena Shopee akan mencoba 'membocorkan' atau menurunkan ROAS Anda agar mendekati angka yang Anda set (target 12). Jika ROAS Anda terlalu tinggi, sistem akan menormalisasi performa iklan agar sesuai dengan target yang Anda inginkan. Jadi, biaya iklan tetap keluar, tapi orderan bisa jadi berkurang hingga nol untuk menstabilkan ROAS.

Dari sisi bisnis, penting juga untuk mengecek CTR (Click-Through Rate) dan ATCR (Add To Cart Rate). Jika keduanya stabil tapi penjualan turun, bersabarlah. Namun, jika ada penurunan drastis pada CTR atau ATCR, itu bisa menjadi indikasi masalah lain, seperti munculnya kompetitor dengan tawaran lebih baik, variasi produk habis, atau faktor-faktor eksternal lainnya. Anda perlu melacaknya lebih lanjut.

7. Siapa yang Membayar Voucher Shopee Rp50.000?

Pertanyaan ini sering muncul: "Pembeli mendapatkan voucher Shopee senilai Rp50.000. Apakah ini dibebankan kepada penjual atau Shopee?"

Voucher Shopee memiliki dua jenis: dari promo ekstra atau voucher spesial toko. Memang, voucher ini berasal dari Shopee. Namun, untuk mendapatkan voucher sebesar itu, Anda seringkali harus 'membayarnya' melalui biaya admin promo ekstra atau spend iklan yang besar. Seperti kasus teman kita ini yang spend iklannya mencapai Rp2 juta-Rp3 juta per hari. Wajar jika produknya sering mendapatkan voucher Shopee Rp50.000.

Jadi, secara tidak langsung, Anda ikut berkontribusi dalam 'biaya' voucher tersebut melalui pengeluaran iklan atau keikutsertaan dalam promo ekstra. Coba saja tidak mengiklankan produk Anda, kemungkinan besar voucher sebesar itu tidak akan muncul. Ini menjadi semacam 'candu' bagi sebagian penjual; jika tidak beriklan, penjualan terasa seret.

8. Iklan Minim, Omset Tinggi, Bagaimana Mem-Push Penjualan?

Seorang teman baru membuka toko dan dalam sebulan sudah mencapai omset Rp3 juta dengan hanya spend iklan Rp700 ribu (bahkan hanya Rp3.000-Rp4.000 per hari). Dia bertanya bagaimana cara mendorong penjualan lebih banyak melalui iklan.

Mendapatkan omset Rp3 juta dengan spend iklan serendah itu (terutama Rp3.000-Rp4.000 per hari) jelas menunjukkan bahwa penjualan Anda didominasi oleh organik, bukan iklan. Ini mengindikasikan bahwa Anda mungkin bermain di kategori "blue ocean" atau produk Anda sangat dicari. Luar biasa!

Pengalaman saya pribadi, terkadang "tamak" ingin mem-push lebih jauh dari kondisi yang sudah bagus malah bisa berujung boncos. Namun, jika Anda ingin mencoba mendorong iklan, coba ubah strategi ke mode "auto" dan jangan "diet ROAS" (menargetkan ROAS spesifik). Sayangnya, saya tidak yakin strategi ini akan selalu meningkatkan penjualan.

Iklan sekarang memang tidak bisa dipaksa untuk spend besar jika algoritmanya tidak mendukung. Jika toko Anda memiliki organik yang sangat bagus seperti ini, saya lebih menyarankan untuk memperbanyak toko atau "ternak toko" untuk memperbanyak 'kaki' pendapatan. Ini bisa menjadi strategi yang lebih aman dan berkelanjutan dibandingkan memaksakan iklan.

Penutup

Itulah beberapa pertanyaan dan jawaban yang sempat kita bahas hari ini. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua yang sedang berjuang di e-commerce.

Sebagai informasi tambahan, saya akan ada di Jakarta tanggal 7, dan saya membuka sesi bedah toko. Jika ada yang berminat, silakan hubungi saya secara langsung. Untuk informasi dan insight bisnis e-commerce lainnya, jangan lupa kunjungi ghanirozaqi.com.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Tanya Jawab Seputar Shopee: Dari Fitur Baru hingga Pajak PPN"

Posting Komentar