Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Suka Duka Bekerja di Malaysia

Menindaklanjuti postingan tentang tahapan bekerja di Malaysia yang lumayan responnya, sekarang saya mau share pengalaman saya kerja di Malaysia sekitar 1 tahun.

Waktu itu saya nge-apply kerja ke perusahaan Singapore yang ada proyek di Tanjung Priok, sebenarnya wawancara waktu itu untuk ngisi posisi engineer di Tanjung Priok, nemenin temen saya dulu waktu di Kampus. Alih alih berharap diwawancara di kantor ber-AC, si interviewer malah nentuin tempat wawancaranya di Bandara Soetta, sekalian doi mau pulang ke Singapore katanya. Waktu itu saya diwawancarai oleh 3 orang management level (2 orang Singapore dan 1 orang Indonesia).

Wawancara nya singkat banget gak pake basa basi, tentunya pakai bahasa Inggris. Kata mereka saya gak cocok ditempatin di Priok, dan mereka bilang mungkin ada lowongan di proyek yang di Malaysia, nanti akan diwawancarai ulang katanya, mungkin via Video Call. Wah pikiran saya denger itu bener-bener campur aduk. Sangat excited sekali untuk kerja di luar negeri, padahal sebelumnya belum pernah kepikiran kerja di luar negeri.

Skip skip skip, wawancara kedua pun berjalan mulus, dan dinyatakan bakal diterima saat itu juga. Dan dibilang tahap pertama tentu adalah dokumen kerja mesti dipersiapkan.

Nah persiapan dokumen ini bukan sebentar dan cukup melelahkan. Kurang lebih memakan waktu 3 bulan. Sementara masih nunggu dokumen visa kerja, saya ditempatin dulu di proyek yang di Priok. Untuk tahapan-tahapan proses nya udah dibahas ya di post yang satu ini.

Singkat cerita, berangkat juga saya ke Malaysia. Di hari keberangkatan, dianterin calon istri dan keluarga besar. Wuih bener, rasanya sendu banget, karena saya berangkat sendirian dan bisa dibilang waktu itu pertama kalinya saya merantau dalam waktu yang lama.

Orang Indonesia diremehkan


Saya ditempatin di proyek konstruksi PLTU di kota Manjung, Malaysia bagian barat. Pertama datang di proyek, saya langsung mendapat "pelecehan" dari HR yang penduduk lokal Malaysia. Pelecehan nya gak frontal sih, pelecehannya lebih ke meragukan saya sebagai orang Indonesia memiliki kompeten yang baik. Sejak saat itu tekad saya malah membara untuk membuktikan kalau saya memang layak untuk mendapat posisi ini. Oya posisi yang saya isi adalah Project Engineer, dan di proyek itu orang Indonesianya hanya satu, ya saya.


Mayoritas teman kerja saya adalah orang India, India asli yah, bukan India Malaysia dan para worker (pekerja kasarnya) didominasi orang Bangladesh dan Pakistan, sekitar 50 orang-an. Di sini orang Malaysia nya juga sedikit, gak sampai 5 orang. Jadi dari 20 staff yang ada di proyek, terdiri dari 14 orang India, 5 orang Malaysia, dan 1 orang Indonesia (saya).

Waktu waktu awal saya di sana emang kerasa banget bahwa orang Indonesia itu dianggap rendahan tidak kompeten. Terbukti setiap saya perkenalan diri sama orang baru dan ngaku engineer dari Indonesia, banyak yang kaget gak percaya. Hadohhh, mereka kira di Indonesia semuanya gak sekolah apa ya?? Sebenarnya orang Indonesia bukanlah yang paling terlecehkan, yang paling terlecehkan adalah orang Bangladesh. Orang Bangla ini ada di seluruh pelosok Malaysia, kerjaannya mayoritas jadi pekerja kasar. Ini terjadi karena hampir tidak ada orang Malaysia asli yang mau kerja kasar. Jangan heran kalau ketemu orang Bangla yang bisa bahasa Malay, karena banyak yang udah kerja puluhan tahun di Malaysia.


Malaysia better than Indonesia

Infrastruktur di Malaysia menang jauh dari Indonesia, contoh kecilnya adalah jalan raya. di sini hampir ga ada jalanan rusak! Ini menunjukkan keseriusan pemerintahnya yang ngebangun jalan dengan budget sesuai, bukan kaya di Indonesia, budget nya diteken-teken demi profit/uang entertain.

Biaya hidup di sini sebenarnya gak beda jauh sama di Indonesia. Di sini makan nasgor habis 5 Ringgit ya sekitar 18rb rupiah. gak jauh kan? cuman yang bikin biaya hidup bengkak adalah harga rokok! haha. di sini harga rokok (resmi) per bungkusnya sekitar 20 Ringgit alias 60rb Rupiah. Lumayan kan? makannya setelah beberapa bulan di sana akhirnya saya menemukan toko yang jual rokok illegal yang selundupan dari Indonesia. hehe. Harga rokok yang mahal merupakan bentuk perhatian pemerintah akan kesehatan rakyatnya.


Kerja bagaikan kuda

Dalam bekerja di sini, sebagai "orang asing" saya dituntut dengan etos kerja yang betul betul tinggi. Saya seperti tidak punya alasan untuk pulang tepat waktu, karena selalu ditanya oleh atasan: "pulang mau ngapain? kan ga ada keluarga atau siapa2". Ya memang betul, pulang dari proyek pun saya bingung mau ngapain. Lama kelamaan malah otomatis kerja, kerja, dan terus kerja. 

Di sana jam kerja saya dari jam 06:30 pagi sampai jam 21:30 malam! Dari Senin - Minggu, kecuali hari Minggu kerja dari jam 08:00 s.d. 17:00. Ya syukurnya kelebihan jam kerja bisa klaim bayaran lembur, untuk modal kawin. heheh. 

Jam kerjanya seperti ini: coffee time 10:00-10:15 & 15:00-15:15, waktu makan siang 12:00-13:00, regular hour abisnya jam 19:00, selebihnya lembur.

Terkadang dengan kerja kaya gitu saya susah untuk ibadah, sebetulnya meninggalkan kerja demi ibadah tidak akan membuat pekerjaan terancam, hanya saja mereka para boss-boss India tidak semuanya maklum akan kewajiban shalat umat Islam, apalagi shalat Jumat yang memakan waktu 1 jam lebih. Jadi kadang saya ditelpon ketika sedang shalat untuk soal pekerjaan, ibadah pun jadi gak tenang, kaya diterror. Inilah salah saru faktor utama saya berhenti dari pekerjaan di Malaysia.

Malaysia itu rasis

Di Malaysia ada 3 suku ras mayoritas, yaitu Melayu, Chineese, dan India. Ketiganya seperti air dan minyak. Jarang sekali saya melihat kumpulan lintas ras. Bahkan perumahan pun seperti sudah dikotak-kotakan dengan sendirinya, Ada kampung India, perumahan Melayu, dan kampung Cina. Bangsa Melayu disebut dengan Bumiputera atau penduduk asli.

Sejak dahulu bangsa Cina udah terkenal merantau ke mama mana, gak heran hampir di seluruh pelosok dunia ada suku Cina, tak terkecuali Malaysia. Bahkan di Malaysia ini banyak sekali suku Cina nya, lebih banyak daripada di Indonesia. Bangsa Cina di Malaysia tidak merasa terkucilkan kalau dipanggil Cina, bahkan sangat bangga, beda dengan Indonesia yang didoktrin sejak Orba untuk mendiskritkan bangsa Chineese.

Sedangkan bangsa India ada di Malaysia sejarahnya karena dulu waktu semenanjung malaka masih dijajah Inggris, Inggris mendatangkan banyak sekali pekerja dari India. Dan semua pekerja India itu berasal dari daerah yang sama di india, yaitu hanya Tamilnaidu saja. Makannya jangan heran kalau orang India-Malaysia tidak bisa bahasa Hindi, mereka hanya bisa bahasa Tamil.

Rasisme di Malaysia ini bukan hanya terjadi di kehidupan sosial saja, bahkan pemerintahan pun mengeluarkan kebijakan kebijakan rasis, yang menguntungkan bangsa melayu. luar biasa. Contoh: pegawai pemerintahan harus dari kalangan Bumiputera (melayu), banyak beasiswa dan tunjangan kesehatan hanya untuk bangsa melayu, ada daerah khusus orang melayu, dan masih banyak lagi. 

Pintar Bahasa Inggris

Seluruh orang lokal Malaysia yang pernah saya temui, mereka lancar berbahasa Inggris, meskipun dengan grammar yang tidak benar. Bahkan sesama penduduk lokal tapi antar ras, berkomunikasi menggunakam bahasa Inggris itu biasa, padahal bahasa resmi Malaysia adalah bahasa Melayu.

Di sana memang sudah terbiasa menggunakan bahasa Inggris, mungkin karena jajahan Inggris. Orang orang di sana gak malu grammar acak-acak-an, typo tulisan bahasa Inggris, yang penting komunikasi berjalan dengan lancar. Beda dengan di Indonesia yang sering banget ngebully orang yang berusaha untuk berbahasa Inggris tapi salah. STOP bullying english typo! 

Memutuskan untuk berhenti

Sudah sejak lama saya punya cita cita jadi entrepreneur, hanya tinggal masalah waktu saja saya bakal memutuskan untuk tidak lagi bekerja pada orang lain. Waktu di Malaysia, saya merasa sudah cukup mendapatkan ilmu, dari ilmu sabar sampai ilmu teknis.

November 2015 saya menikah dengan pujaan hati, dan hanya cuti selama 2 minggu saja. Alhamdulillah semuanya lancar. 2 bulan kemudian saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan kembali ke Indonesia untuk menjalankan bisnis, dimulai dari bisnis cuci motor.

Meski gaji yang saya dapat sangat sangat lumayan, tapi saya tidak punya waktu privasi untuk ibadah, dan jauh dari istri tercinta. Inilah 2 hal utama yang membuat saya berhenti kerja saat itu.

===
itulah suka duka saya bekerja di Malaysia, bagi yang ingin memulai karir bekerja di luar negeri, coba dipikirkan lagi masak-masak, karena tidak semuanya enak, jangan terpengaruh apa kata orang yang menghasut. Lebih baik hujan emas di negeri sendiri, daripada hujan batu di negeri orang. hehe
Semoga bermanfaat.