My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee

Waspada Modus Penipuan Retur COD Melalui JNE: Skema Terbaru dan Solusinya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Teman-teman. Mungkin Anda pernah atau sedang mengalami penipuan retur atau yang sering disebut fraud retur sebagai seller.

Aduh, menjadi seller memang banyak sekali tantangannya, bukan? Dari urusan admin, regulasi pemerintah, hingga penipuan seperti ini, belum lagi ulasan bintang satu, atau kenaikan harga bahan baku. Rasanya kepala mau pecah! Namun, jangan lupa, di sisi lain, khususnya bagi seller Shopee, akses ke traffic pembeli relatif lebih mudah dibandingkan harus membangun platform sendiri. Tapi itu lain soal, mungkin akan saya bahas di kesempatan lain.

Memahami Skema Penipuan Retur COD

Kali ini, saya ingin membahas tentang fraud retur. Ini adalah hasil diskusi saya dengan JNE Bandung. Alhamdulillah, JNE sangat pro-seller. Waktu itu ada kasus di komunitas di Bandung, saya langsung menghubungi pihak JNE, dan mereka segera mengajak saya untuk meeting. Sangat responsif!

Dari pertemuan tersebut, JNE juga membuka beberapa fakta penting yang akan saya sampaikan di sini. Jadi, skema penipuan retur ini kurang lebih seperti ini:

Skema penipuan ini sebenarnya skema lama yang sempat ramai, namun belakangan ini, terutama saat video ini saya buat, modusnya kembali marak dengan metode retur menggunakan JNE. Begini detailnya:

  1. Ada pesanan COD.
  2. Pesanan tersebut dibayar bukan oleh si pemesan asli, melainkan oleh orang lain yang menjadi korban pertama (misalnya kakak, istri, orang tua, atau siapa pun yang menerima paket di alamat tersebut).
  3. Setelah pesanan dibayar, si penipu melakukan komplain via aplikasi, meminta retur.
  4. Barang yang dikembalikan ternyata berbeda atau barang bekas.
  5. Komplain dilakukan dengan memanfaatkan foto ulasan produk (misal: di ulasan ada foto baju warna hitam, sementara pesanan sebenarnya warna putih). Modus ini paling mudah diterima karena perbedaan warna atau barang salah kirim sangat jelas jika dibandingkan dengan foto ulasan.
  6. Sistem Shopee akan mudah menerima komplain ini, sehingga uang akan kembali kepada pembeli (dalam hal ini, akun si penipu).

Ini adalah skema lama yang disebut "bom COD" dan sempat ramai tahun lalu. Belakangan ini, maraknya kembali retur justru melalui JNE. Ketika saya mengetahui ini ramai, saya langsung menghubungi pihak JNE, dan seperti yang sudah saya sampaikan, JNE sangat mendukung seller.

Temuan Penting dari JNE: Pola Retur Terpusat

Yang menarik dari modus ini, karena menggunakan JNE, dan gara-gara meeting dengan JNE, saya jadi tahu sesuatu yang mengejutkan. Ternyata, pengiriman returnya dikirim dari tempat yang sama!

Artinya, misalkan pesanan awalnya ke Cianjur, namun returan yang dikirim berasal dari Tangerang. Dan bukan hanya satu resi, melainkan beberapa resi dari lokasi yang sama. (Mohon maaf ya untuk warga Tangerang, mungkin nanti pelakunya pindah lagi ke Pekalongan atau mana, wallahualam). Intinya, retur dikirim menggunakan JNE dari drop point yang sama.

Meskipun orderan COD dikirim ke Sukabumi, Tasik, atau Bekasi, ketiga retur tersebut dikirim dari drop point yang sama di Tangerang. Ini adalah kasus yang saya diskusikan kemarin dengan JNE. Mungkin ke depannya akan ada pola lain, tapi intinya, drop point returnya terpusat di satu titik.

Ini menunjukkan bahwa si penipu memiliki dua korban:

  1. Korban Pertama: Orang yang membayar COD tetapi tidak memesan barang tersebut.
  2. Korban Kedua: Kita sebagai seller.

Tentu, keduanya sama-sama kasihan. Kita sebagai seller adalah korban yang paling dirugikan. Si penipu ini memesan secara terpusat dalam satu titik, bukan dari banyak lokasi. Returnya pun terpusat. Artinya, si penipu ini sudah memiliki banyak database korban, lalu memesan melalui aplikasi atau mungkin melalui HP (saya tidak tahu persis caranya, tapi tidak mungkin sendiri).

Pesanan dikirimkan ke korban pertama yang membayar COD. Jika tidak terkirim atau ditolak, barang akan kembali ke seller, dan bagi si penipu, tidak ada kerugian berarti selain waktu. Namun, jika dibayar, maka muncullah korban kedua, yaitu kita para seller, karena uang akan langsung cair ke si penipu.

Korban pertama mendapatkan barang yang sebetulnya tidak ia pesan. Jika barangnya bagus dan memang butuh, mungkin tidak masalah. Nah, kita, para seller (korban kedua), tidak mendapatkan uang dan barang returannya adalah barang bekas atau barang yang tidak jelas.

Karena order dan retur terpusat di satu titik (misalnya Tangerang, sekali lagi mohon maaf ya warga Tangerang), ini mengindikasikan bahwa si penipu memiliki database yang banyak dan sudah menyiapkan barang bekas yang banyak pula. Mereka mungkin sudah mem-packing barang-barang tersebut sebelum beraksi. Jadi, kalau ada retur, tinggal cetak resi komplain/retur dan langsung kirim. Mereka punya banyak database dan memesan satu per satu melalui aplikasi.

Jika melalui HP, setahu saya tidak bisa mencetak komplain (saya belum pernah mencoba). Mengelola banyak pesanan dari satu HP dan melacak mana yang sudah dibayar mana yang belum, itu pekerjaan yang cukup merepotkan. Ini berarti tidak mungkin hanya satu orang yang melakukannya, minimal dua orang.

Perilaku ini, menurut saya, sudah masuk kategori kriminal atau penipuan. Wallahualam yang lebih mengerti hukum. Yang jelas, tidak mungkin mereka beraksi sendiri. Drop point JNE tempat retur dikirim juga jelas di mana, namun tentu perlu ditelusuri lebih lanjut oleh pihak berwenang, karena karyawan drop point mungkin tidak tahu apakah itu returan hasil penipuan atau bukan.

Modus ini terstruktur, sistematis, dan masif. Sangat menyebalkan, bukan?

Apa yang Harus Saya Lakukan sebagai Seller?

Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dari skema penipuan ini?

  1. Selalu lakukan video unboxing setiap kali barang retur datang. Ini adalah bukti paling kuat.
  2. Lacak nomor resi retur di website JNE (atau ekspedisi lain yang digunakan).
  3. Buktikan kepada admin Shopee (atau platform e-commerce lain) yang menangani komplain bahwa returan dikirim dari tempat yang berbeda, bukan dari lokasi pengirim atau penerima awal (customer/korban satu).

Misalnya, jika pesanan awalnya ke Cianjur, tetapi ternyata returan dikirim dari Tangerang, ini adalah indikasi kuat adanya ketidakberesan. Pastikan Anda punya bukti ini agar banding Anda diterima. Dengan begitu, muncullah korban ketiga: Shopee.

Ya, Shopee mau tidak mau harus menerima bukti banding kita yang sudah kuat, karena ini adalah celah atau sistem yang kacau di platform mereka. Jadi, Shopee akan menjadi korban selanjutnya. Begitulah lika-liku menjadi seller, Teman-teman.

Semoga Anda jadi lebih paham skema fraud seperti ini yang sudah lama ada. Terus ajukan banding, bahkan untuk nominal kecil sekalipun. Saya sarankan Anda membuat sistem di mana karyawan sudah memahami proses ini sehingga penanganan retur bukan lagi kerugian yang besar, melainkan menjadi bagian dari proses bisnis atau operasional Anda sehari-hari.

0 Response to "Waspada Modus Penipuan Retur COD Melalui JNE: Skema Terbaru dan Solusinya"

Posting Komentar