My Sticky Gadget

Bajuyuli baju muslim anak perempuan
Beranda · Self-engineering · bisnis · Memoar · Review Buku · Thoughts · Tentang Saya ·

Kenapa Saya Menginisiasi Kelompok Belajar AI

Kenapa Saya Menginisiasi Kelompok Belajar AI

Simpelnya begini: di tahun 2025, ketika saya masih aktif jualan online, kualitas foto AI itu belum sebagus sekarang. Jauh. Hari ini, per 1 Januari 2026, hasil AI sudah melompat sangat jauh dibandingkan bahkan beberapa bulan lalu, misalnya saat Lebaran 2025. Perkembangannya cepat sekali, dan itu yang bikin saya merasa perlu untuk terus ngulik.

Saya memang orang yang hobi menginisiasi sesuatu. Sebelumnya, saya pernah bikin beberapa inisiatif. Salah satunya MBGR, forum seller online yang rutin jalan lewat Zoom setiap hari Jumat. Untuk yang domisili Bandung, biasanya kami juga sempatkan jumpa darat sebulan sekali.

Saya juga pernah bikin arisan friend order. Tujuannya sederhana: saling bantu antar seller. Kami saling order produk satu sama lain untuk dapat ulasan, ngebangun performa toko, termasuk dorong GMV MAX, dan hal-hal praktis lain yang memang dibutuhkan penjual online.

Pengalaman Belajar Kelompok Sebelumnya

Dulu saya pernah bikin kelompok belajar TikTok Shop. Konsepnya bukan kelas, bukan mentoring, dan bukan satu orang paling jago ngajarin yang lain. Tapi benar-benar belajar kelompok. Peer to peer sharing.

Ilustrasinya seperti ini: ada A, B, dan C. Kalau C paling jago lalu ngajarin A dan B, itu namanya kelas atau mentoring. Bukan belajar kelompok. Di belajar kelompok, semua orang punya porsi sharing. Setiap hari ada yang berbagi insight, praktik, atau temuan baru.

Di situ saya belajar satu hal penting: kelompok belajar itu harus satu level. Kalau levelnya terlalu jauh, kasihan yang sudah lebih jago. Energi yang dikeluarkan sama, tapi insight yang didapat lebih sedikit. Akhirnya tidak seimbang.

Kelompok TikTok Shop waktu itu sempat jalan sekitar tiga sampai empat bulan. Insight yang saya dapat luar biasa karena benar-benar praktik bareng. Sayangnya, pelan-pelan mulai kandas karena sharing harian mulai macet. Padahal kuncinya memang ada di konsistensi berbagi.

Kenapa Sekarang Fokus ke AI

Sekarang saya ingin menginisiasi lagi, tapi fokus ke AI. Alasannya sederhana: AI berkembang terlalu cepat. Dari awal ChatGPT muncul sampai hari ini, perubahannya terasa banget. Dulu saya sering ngerasa jawabannya ngelantur atau ngaco. Sekarang masih ada, tapi jauh lebih cepat dan jauh lebih rapi.

Kita juga sekarang bisa jauh lebih presisi dalam ngatur prompt, input data, dan alur kerjanya. Hasilnya pun makin bisa dipakai secara nyata, bukan cuma coba-coba.

Buat saya pribadi, ini juga soal menjaga diri supaya tetap relevan. Saya sudah mendekati usia 40, dan sering dengar omongan bahwa setelah usia tertentu, otak jadi susah menerima hal baru. Entah benar atau tidak, saya tidak mau menyerah pada asumsi itu.

Apalagi kalau sudah dibarengi masalah fisik seperti kolesterol atau diabetes, katanya makin susah belajar hal baru. Justru karena itu saya pengin terus ngulik. Kelompok belajar ini salah satu ikhtiar saya untuk tetap waras, tetap penasaran, dan tetap relevan.

Belajar Bareng Itu Lebih Masuk

Belajar sendirian sebenarnya bisa. Saya pun banyak belajar sendiri dari YouTube atau kelas berbayar. Secara teknikal seringkali terpenuhi. Tapi secara sosial dan use case nyata, rasanya beda.

Use case itu penting. AI ini dipakai buat apa sih secara konkret? Di dunia nyata, di bisnis, di kerjaan harian? Hal-hal seperti ini lebih enak dibahas bareng, ketemu orang-orang yang memang sedang jalan di jalur yang sama.

Syukur-syukur dari kelompok belajar ini nantinya bisa lahir produk digital bareng, atau bahkan tools yang memang dipakai bersama. Kalau pun tidak, proses belajarnya sendiri sudah sangat berharga.

Format Kelompok Belajar AI

Saat ini saya bikin dua kelompok belajar AI. Ada format online dan ada juga yang offline di Bandung. Per artikel ini ditulis, kelompok ini baru jalan sekitar satu minggu, jadi masih sangat fleksibel dan terbuka untuk masukan.

Prinsipnya tetap sama: peer to peer sharing, satu level, saling jaga semangat untuk terus belajar dan ngulik. Bonusnya tentu networking, peluang bisnis baru, dan relasi yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya.

Kalau teman-teman tertarik untuk ikut, atau punya ide terkait konsep kelompok belajar ini, silakan hubungi saya. Informasi kontak bisa ditemukan di ghanirozaqi.com. Masukan, saran, atau sekadar diskusi santai juga sangat saya terbuka.

Begitulah cerita di balik kenapa saya menginisiasi kelompok belajar AI ini. Semoga bisa jadi jalan buat sama-sama tumbuh dan tetap relevan ke depannya.

Bagikan :

Facebook Twitter

0 Response to "Kenapa Saya Menginisiasi Kelompok Belajar AI"

Posting Komentar