Profit atau Nothing: Kenapa Saya Sekarang Fokus Profit Besar
Beberapa waktu terakhir, saya makin sadar bahwa dalam bisnis, terutama jualan online, orientasi saya harus berubah. Kalau dulu selama masih ada untung saya lanjutkan, sekarang mindset saya jauh lebih tegas: profit besar atau saya tinggalkan produknya.
Saya masih jualan di marketplace, masih main di Shopee dan platform lain. Tapi kalau sebuah produk terlalu berat di harga, margin tipis, dan sulit dibesarkan profitnya, saya memilih untuk move on. Apalagi menjelang momen besar seperti Lebaran, saya merasa ini waktu yang tepat untuk naik level.
Yang Benar-Benar Peduli Profit Itu Cuma Kita
Saya ingin mengingatkan satu hal penting: yang benar-benar peduli dengan profit bisnis kita itu cuma kita sendiri. Itu pun kalau kita memang peduli. Banyak penjual tanpa sadar justru lebih fokus ke hal lain seperti jumlah paket, ROAS, atau omset.
Semua itu memang penting, tapi di kondisi sekarang saya sangat menyarankan satu fokus utama: profit. Kalau bukan kita yang jaga profit, tidak akan ada pihak lain yang melakukannya.
Marketplace, Agensi, dan Influencer Tidak Bertanggung Jawab atas Profit Kita
Kalau kita bicara aplikator seperti Shopee atau TikTok, mereka tidak peduli apakah kita untung atau rugi. Yang mereka pedulikan adalah paket banyak, admin fee jalan, harga kompetitif, dan trafik tinggi. Profit penjual bukan prioritas mereka.
Begitu juga dengan agensi. Ada agensi yang bagus dan benar-benar peduli profit klien, dan menurut saya itu layak dipertahankan karena niatnya kerja sama jangka panjang. Tapi kalau agensi hanya fokus scale up, budget naik, ROAS kelihatan bagus tapi profit tidak jelas, saya pribadi menyarankan untuk pelan-pelan ditinggalkan.
Influencer pun sama. Termasuk saya sendiri, saya tidak tahu HPP produk orang lain, jadi jelas saya tidak bisa peduli soal profit mereka. Lagi-lagi, semua balik ke diri kita masing-masing.
Profit Itu Nikmat
Paket banyak itu menyenangkan, omset besar itu bikin bangga. Tapi jujur saja, profit itu jauh lebih nikmat.
Dengan profit, kita bisa melakukan banyak hal: upgrade device kerja, beli laptop atau PC yang lebih layak, sekolah lagi, bikin bisnis baru, sampai jalan-jalan bareng keluarga. Jalan-jalan mungkin terlihat tersier, tapi buat saya itu penting untuk kesehatan mental.
Bisnis adalah pekerjaan yang sangat menekan. Tanpa profit yang layak, semua capek itu rasanya hambar. Saya sudah merasakannya sendiri, dan justru setelah benar-benar fokus profit, kualitas hidup dan produktivitas saya naik.
Banyak Penjual Tidak Tahu Profit karena Tidak Paham Hitungan
Satu masalah klasik yang sering saya temui adalah penjual yang tidak tahu profitnya berapa. Alasannya macam-macam: laporan keuangan ribet, tools membingungkan, atau bingung mulai dari mana.
Padahal sebenarnya menghitung profit itu sederhana. Tidak ada rumus aneh-aneh. Cukup tambah, kurang, kali, dan bagi. Google Sheet bisa, Microsoft Excel bisa, bahkan pakai kertas pun bisa, asal kita paham konsepnya.
Tools Itu Membantu, Tapi Bukan Solusi Utama
Tools memang memudahkan. Kalkulator itu tools. AI itu tools. Tools yang saya buat di ghirozaqi.com juga tools. Tapi masalahnya bukan di tools-nya, melainkan di orang yang memakainya.
Ibarat kalkulator, kalau input-nya salah, hasilnya pasti salah. Bukan kalkulatornya yang keliru, tapi pilotnya. Teknologi sudah mature, tapi manusia tetap penentunya.
Karena itu, menurut saya urutannya jelas: pahami dulu cara menghitung laporan keuangan, baru setelah itu pilih tools apa pun yang mau dipakai.
Mulai Paham, Baru Pilih Tools yang Tepat
Kalau sudah paham dasarnya, tools apa pun bebas. Saya sendiri sekarang kembali ngulik fitur laporan keuntungan di BigSeller, dan jujur saja, sekarang jauh lebih rapi dibanding sebelumnya. Integrasi iklan sudah lebih baik dan laporan bisa dilihat real time.
Dari sini muncul ide untuk membuat bootcamp khusus laporan keuntungan. Saya sudah punya program Bootcamp Ternak Toko, dan ke depan saya ingin fokus ke praktik laporan keuntungan secara tematik dan mendalam.
Menurut saya, format bootcamp itu paling ideal. Bukan cuma materi, tapi praktik yang dipantau, dievaluasi, dan diulang. Karena jujur saja, saya sendiri sering ikut kelas berbayar tapi tidak langsung praktik. Dan itu manusiawi.
Penutup
Intinya sederhana: profit itu penting, profit itu nikmat, dan profit tidak akan datang kalau kita sendiri tidak peduli. Tools hanya alat bantu. Kalau dipakai salah, hasilnya juga salah. Garbage in, garbage out.
Kalau kita mau serius membenahi bisnis, pahami dulu hitungannya, jaga profitnya, baru bicara scale dan tools. Itu saja pesan saya kali ini.

0 Response to "Profit atau Nothing: Kenapa Saya Sekarang Fokus Profit Besar"
Posting Komentar