Must-Have Skill 2026: Pentingnya Komunikasi Terstruktur di Era AI
Pendahuluan
Saya ingin berbagi pandangan tentang satu kemampuan yang menurut saya akan menjadi sangat krusial di tahun 2026 ke depan: komunikasi. Bukan hanya komunikasi antar manusia, tetapi juga komunikasi antara manusia dan mesin, terutama dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan kita sehari-hari.
Mengapa Komunikasi Semakin Penting?
Dari dulu komunikasi sudah penting, tetapi sekarang menjadi jauh lebih vital. Kita bukan lagi hanya menyampaikan pikiran ke manusia dengan segala dinamika emosinya, tapi juga ke AI yang stabil, selalu tersedia, dan mampu memproses informasi dengan cepat. Namun tetap saja, apa pun lawan bicaranya, selalu ada galat atau ketidaksempurnaan transmisi pesan.
Kesemerawutan di otak kita tidak selalu keluar dengan rapi melalui mulut atau keyboard. Semakin tidak terstruktur pesan yang kita keluarkan, semakin besar galat yang diterima lawan bicara—baik manusia maupun AI.
Komunikasi sebagai Proses Men-transcribe Pikiran
Saya melihat komunikasi sebagai proses men-transcribe isi pikiran kita menjadi bentuk yang bisa diterima orang lain. Baik berupa kata-kata, tulisan, maupun gambar. Dan proses ini hampir pasti menghasilkan galat, karena tidak ada orang yang bisa memahami 100% maksud kita.
Bahkan AI pun, meski lebih cepat dan lebih stabil, tetap memiliki keterbatasan. Namun ketika kita memberikan input yang lebih rapi dan terstruktur, AI bisa bekerja jauh lebih optimal.
Bagaimana Mengurangi Galat dalam Komunikasi?
Kuncinya adalah membuat pikiran kita lebih terstruktur sebelum disampaikan. Makin teratur alur yang kita sampaikan, makin sedikit galat yang muncul, baik bagi manusia maupun AI. Ini sangat berpengaruh karena siapa yang mampu memanfaatkan AI dengan baik, dialah yang lebih unggul dalam kompetisi—baik di level pengguna maupun di level pengembang teknologi.
Tiga Pilar Penting dalam Komunikasi Efektif
1. Komunikasi Terstruktur
Kita perlu tahu apa yang menjadi awal pembahasan, apa yang menjadi akhir, dan bagaimana alurnya. Banyak orang berbicara melompat-lompat—dari awal ke akhir, kembali ke awal, lalu loncat ke konteks lain. Hal ini membuat pendengar kebingungan dan kehilangan fokus.
2. Bendahara Kata
Memiliki perbendaharaan kata yang luas membuat kita mampu memilih kata yang tepat untuk menyampaikan maksud. Ini bukan hal remeh. Dulu saya bisa membaca hampir 100 buku setahun, dan sekarang lebih banyak mendengarkan audiobook. Keduanya membantu memperkaya kosakata sehingga pesan bisa disampaikan dengan lebih presisi.
3. Prioritas
Menentukan apa yang harus disampaikan lebih dulu adalah keterampilan yang sering diremehkan. Dalam banyak kesempatan, seperti sesi tanya jawab, sering ada orang yang ingin bertanya tetapi justru bercerita panjang tanpa arah. Pendengar jadi lelah, dan esensi pertanyaan malah hilang.
Di grup daily Q&A yang saya adakan melalui Google Meet di ghanirozaqi.com, saya juga sering menjumpai hal seperti ini. Bukan salah siapa-siapa, hanya memang tidak semua orang terbiasa menyusun prioritas ketika berbicara. Padahal kemampuan ini sangat membantu kehidupan sehari-hari.
Penutup
Selama sekitar tujuh menit ini, saya sendiri berusaha mempraktikkan prioritas dalam menyampaikan isi pikiran. Sebelum mengakhiri, saya ingin mengajak teman-teman yang tertarik bergabung dengan program Sikat Dropship, sebuah partnership seumur hidup antara saya dan Mas Oni Kurniawan. Silakan kunjungi ghanirozaqi.com untuk informasi lebih lanjut.
Alhamdulillah, terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Must-Have Skill 2026: Pentingnya Komunikasi Terstruktur di Era AI"
Posting Komentar