My Sticky Gadget

Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Ketika Admin Fee Marketplace 25%: Profit or Nothing dan Pentingnya Network

Ketika Admin Fee Marketplace 25%: Profit or Nothing dan Pentingnya Network

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Di tulisan ini saya ingin mengajak Anda berandai-andai dan melihat kondisi bisnis online dari sudut pandang saya. Mungkin tidak sepenuhnya relevan dengan situasi Anda, dan sangat mungkin Anda tidak sepakat dengan semua yang saya sampaikan. Tidak apa-apa. Saya hanya ingin berbagi cara saya memandang kenaikan admin fee marketplace yang sekarang sudah menyentuh angka 25% bahkan lebih.

Admin Fee 25%: So Be It, Profit or Nothing

Hari ini, admin fee di beberapa marketplace besar sudah cukup tinggi. Di TikTok, kalau mengikuti semua program, kabarnya bisa mendekati 30%. Di Shopee, skema admin fee 25% juga sudah ada, meskipun belum berlaku untuk semua seller.

Pertanyaannya: bagaimana kalau suatu saat nanti semua seller dikenakan admin fee 25%? Artinya, seperempat dari harga jual sudah habis duluan sebelum produk benar-benar kita nikmati keuntungannya.

Bagi saya pribadi, jawabannya sederhana: so be it. Marketplace seperti Shopee dan TikTok tentu punya pertimbangan bisnis sendiri. Mereka wajar ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya. Kita pun sama, kita juga pebisnis yang menumpang di ekosistem mereka. Jadi kalau memang arahnya ke 25%, ya sudah, saya terima sebagai kenyataan permainan.

Lalu apa sikap saya? Saya memegang prinsip: profit or nothing. Saya lebih baik tidak jualan daripada jualan tapi tidak profit.

Banyak seller terjebak di titik dilematis: margin makin tipis, tapi tetap dipaksa jalan. Harga tidak berani dinaikkan karena takut pembeli kabur, namun biaya makin naik, admin fee makin besar, ujung-ujungnya rugi terus. Saya paham betul dilema itu, tapi bagi saya, tetap: kalau sudah tidak profit, saya tinggalkan.

Definisi Profit Sehat Versi Saya

Saya tidak sekadar mengejar profit asal ada sisa. Bagi saya, profit yang sehat itu:

  • Net profit margin di atas inflasi, setelah dikurangi semua biaya.
  • Termasuk di dalamnya gaji saya sendiri sebagai pemilik bisnis.
  • Baru setelah itu ada margin bersih yang masih di atas inflasi.

Selama saya masih bisa menemukan produk yang bisa dijual dengan margin seperti itu, saya tenang. Kalau satu produk tidak bisa, saya cari produk lain. Kalau satu model bisnis tidak memungkinkan, saya geser ke model lain.

Kenapa Saya Bisa Luwes: 95% Dropship

Salah satu alasan utama kenapa saya bisa begitu luwes adalah karena sekarang sekitar 95% aktivitas jualan saya berbasis dropship. Saya membangun komunitas yang saya sebut sebagai sindikat dropship, di mana kami benar-benar bermain di model full dropship.

Kalau sebuah produk tidak laku, saya tinggal pindah ke produk lain. Tidak ada beban stok menumpuk, tidak pusing gudang, tidak pusing produksi. Tanda kutipnya, “susah amat” kalau cuma pindah produk. Ini membuat saya berani memegang prinsip profit or nothing dengan lebih tegak.

Punya Sumber Lain di Luar Satu Bisnis

Alasan lain kenapa saya tidak terlalu panik ketika admin fee naik adalah karena saya sudah memupuk beberapa hal dari jauh-jauh hari.

  • Saya sudah membuat konten di YouTube sejak sekitar lima tahun yang lalu.
  • Saya membangun beberapa lini bisnis dari awal, sedikit demi sedikit.
  • Saya berinvestasi di beberapa tempat, juga pelan-pelan, sejak lama.

Jadi kalau suatu saat saya kesulitan menemukan produk yang bisa dijual dengan profit sehat, saya masih punya yang lain untuk diandalkan. Alhamdulillah, sejauh ini sih masih selalu ada saja blue ocean, masih ada saja produk yang bisa dijual dengan harga bagus dan profit yang terjaga.

No Beban: Tanpa Gudang dan Tim Produksi Besar

Karena saya bermain di dropship, saya tidak punya banyak beban tetap:

  • Saya tidak punya gudang sendiri.
  • Saya tidak punya tim produksi.
  • Saya tidak punya karyawan dalam jumlah besar.

Konsekuensinya, kalaupun satu jalur bisnis kurang menguntungkan, saya masih bisa bertahan cukup lama. Minimal, saya mengharap bisa bertahan dari Lebaran ke Lebaran, karena biasanya momentum Lebaran membawa kenaikan penjualan. Justru gawat kalau di momen seperti Lebaran pun masih main margin tipis.

Network adalah Net Worth

Satu prinsip penting yang semakin saya rasakan sekarang adalah: kekayaan Anda adalah network Anda. Net worth is your network.

Saya sudah cukup lama membangun jaringan pertemanan dan kerja sama. Saya baru benar-benar sadar betapa pentingnya network sekitar tahun 2019, dan efeknya sangat terasa sekarang ketika admin fee naik, iklan makin mahal, dan tantangan makin berat.

Ciri Network yang Sehat

Bagi saya, network yang baik itu:

  • Siap susah dan senang bersama, bukan hanya datang saat ada maunya.
  • Bukan oportunis yang hanya ingin mengambil sesuatu dari kita, tapi tidak mau membantu ketika kita butuh.
  • Ada timbal balik yang wajar, meski tidak selalu simetris.

Dan menariknya, network yang sehat itu biasanya dimulai dari kita yang memberi duluan. Kadang di awal terasa seperti “merugi” atau “memodali” dalam tanda kutip, baik dalam bentuk waktu, bantuan, informasi, atau dukungan lain. Tapi ketika suatu hari kita sendiri butuh bantuan, di situlah terasa manfaatnya.

Kalau saya bayangkan skenario terburuk, misalnya saya sama sekali tidak jualan online lagi, saya masih cukup percaya diri untuk datang ke teman dan berkata, “Tolong dong, ada kerjaan apa buat saya?” Kalau dia betul-betul teman dan bagian dari network saya, akan terasa sekali bedanya respons mereka.

Waspadai Kesepian di Depan Laptop

Kalau Anda sekarang masih sendirian di depan laptop tiap hari, tidak punya teman diskusi, hanya bergantung pada beberapa grup WhatsApp atau Telegram tanpa interaksi yang dalam, hati-hati. Tantangan ke depan makin berat: ada AI, admin fee naik, biaya iklan mahal, dan berbagai perubahan lain yang tidak mudah kalau dihadapi sendirian.

Itu pula alasan saya membangun beberapa komunitas, salah satunya komunitas jualan online bernama MBGR. Informasi tentang komunitas ini bisa Anda temukan di ghanirozaqi.com. Tapi penting untuk dipahami, sekadar join komunitas tidak otomatis membuat Anda punya network yang bagus. Di dalam komunitas pun tetap akan ada orang yang oportunis, yang hanya ingin mengambil tanpa mau memberi.

Seiring waktu, biasanya akan terfilter sendiri: mana yang kontributif, mana yang layak diajak jadi partner, mana yang siap susah senang bersama. Bahkan di dalam satu komunitas, sering muncul lingkaran-lingkaran kecil (circle) yang solid karena sama-sama mau berjuang.

Beratnya Main di Red Ocean dengan Beban Besar

Saya sangat paham beratnya posisi teman-teman yang bermain di red ocean dengan beban besar. Misalnya:

  • Punya pabrik atau rumah produksi dengan banyak mesin, misalnya 50 mesin.
  • Stok di gudang sampai 10.000 pieces.
  • Karyawan 20 orang atau lebih.

Kalau kondisinya seperti ini, wajar sekali kalau sulit untuk luwes seperti saya yang bermain di dropship. Apalagi jika jualannya di kategori yang sudah perang harga terus-menerus. Karyawan sudah terbiasa mengerjakan jenis produk tertentu, mesin cuma didesain untuk produksi barang tertentu, dan proses bisnis sudah terlanjur terkunci di situ.

Saya paham betul karena saya pernah berada di posisi seperti itu dan pelan-pelan melakukan exit. Tidak instan. Sedikit demi sedikit saya geser arah, sampai berada di titik sekarang di mana saya lebih siap menghadapi admin fee yang makin besar.

Dua Saran Utama: Networking dan Buka Mata

Dari semua pengalaman dan kegelisahan ini, ada dua saran utama yang ingin saya tekankan:

  1. Segera bangun networking.
  2. Buka mata terhadap peluang baru.

1. Buka Mata terhadap Peluang Baru

Kalau selama ini Anda hanya fokus di satu arena yang itu-itu saja, apalagi di red ocean yang perang harga, sekarang saatnya mulai buka mata keluar. Jangan hanya sibuk mengamati kompetitor di kategori yang sama.

Di luar sana banyak peluang lain:

  • Anda bisa mulai jadi content creator.
  • Bisa mencoba jalur affiliate.
  • Kalau sekarang main di fashion wanita, mungkin bisa mulai geser pelan-pelan ke fashion pria jika dirasa lebih blue ocean.

Proses “buka mata batin” ini memang tidak mudah. Salah satu cara yang paling membantu adalah melalui mentor. Mentor adalah orang yang sudah lebih dulu berpengalaman di bidang yang Anda tekuni. Semakin banyak pengalaman mereka, biasanya perspektifnya makin luas dan makin bijak. Kadang satu kalimat dari mentor bisa membuka perspektif baru yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.

2. Memupuk Peluang dari Sekarang

Begitu Anda menemukan satu jalur yang terasa menarik, mulailah memupuk dari sekarang, meski kecil. Misalnya:

  • Mulai membuat konten secara konsisten meski penontonnya masih sedikit.
  • Mencoba affiliate meski komisinya terasa kecil dan “cuma receh”.
  • Menguji kategori produk baru dengan skala kecil dulu.

Tidak apa-apa kalau di awal terasa tidak sebanding, yang penting visinya ke depan. Wallahualam, mungkin satu atau dua tahun lagi hasilnya baru terlihat. Tapi kalau tidak dipupuk dari sekarang, ya tidak akan pernah ada hasilnya.

Pivot Bareng Karyawan, Bukan Sendirian

Bagian yang sering paling berat adalah ketika kita punya karyawan banyak dan ingin mengarahkan bisnis ke hal baru. Misalnya, Anda punya produksi pakaian tertentu dan ingin pelan-pelan pivot ke celana jeans.

Kalau karyawan sudah terbiasa mengerjakan produk lama, lalu tiba-tiba Anda memutuskan, “Mulai sekarang kita semua hanya produksi celana jeans,” biasanya yang terjadi:

  • Ada yang menolak perubahan.
  • Ada yang tiba-tiba malas atau tidak masuk.
  • Ada yang komplain, “Pak, ini kan bukan jobdesc saya.”

Fleksibilitas seperti ini memang punya friksi. Saya pernah mengalaminya, jadi saya paham betul beratnya.

Maka, saran saya: pivot pelan-pelan dan libatkan karyawan Anda sejak awal. Contohnya:

  • Mulai dulu dari satu model celana jeans, bukan langsung semua lini.
  • Tunjuk satu dua orang untuk belajar dan mencoba dulu.
  • Tidak apa-apa kalau hari ini baru jadi satu pieces, yang penting jalan dulu.

Biarkan omset dari lini baru itu kecil dulu, biarkan rugi kecil-kecilan dulu, asalkan sedang memupuk jalur baru. Lama-lama, kalau sudah terbiasa, barulah porsi pivot bisa diperbesar.

Menyiapkan Diri Menghadapi Masa Depan

Saya sadar, sebagian yang saya tulis di sini mungkin terasa mengawang-awang karena tidak terlalu konkret. Saya sendiri sebenarnya lebih suka hal yang jelas dan ada next action yang konkret. Tapi kalau harus diringkas, langkah praktis yang bisa Anda ambil sekarang adalah:

  • Bangun networking yang sehat.
  • Buka mata terhadap peluang di luar arena Anda sekarang.
  • Mulai memupuk jalur baru dari kecil.
  • Libatkan tim dalam proses perubahan.

Admin fee bisa naik, iklan bisa makin mahal, kompetisi bisa makin ketat. Tapi selama Anda memegang prinsip profit or nothing, membangun network yang kuat, dan terus membuka mata terhadap peluang baru, insyaallah akan selalu ada jalan.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

0 Response to "Ketika Admin Fee Marketplace 25%: Profit or Nothing dan Pentingnya Network"

Posting Komentar