Saya sering memikirkan soal inovasi produk fashion. Banyak inovasi yang saya amati. Misalnya, ingat Mickey Cap? Saat viral, Mickey Cap sangat ramai digunakan. Ini adalah semacam topi peci tanpa lidah, yang populer sekitar 5 atau 6 tahun lalu di masa tren 'pemuda hijrah'.
Beberapa waktu lalu, saya juga melihat iklan rompi yang menarik. Rompi tersebut didesain agar bisa digunakan untuk salat, karena bagian belakangnya bisa dibuka menjadi gamis. Saya pikir itu adalah inovasi yang keren, membuat penampilan lebih rapi saat salat. Sebagai seseorang yang suka memakai rompi karena fungsionalitasnya (banyak kantong untuk membawa barang tanpa tas), saya sangat tertarik dengan ide ini.
Dulu, saat awal saya mendalami dunia fashion, saya ingat Vanilla Hijab menjadi pionir penggunaan Swarovski di Indonesia. Mutiara-mutiara kecil atau 'mute' dari merek Swarovski ini sempat viral. Saya kurang tahu apa yang membuat Swarovski begitu spesial, tapi memang sempat menjadi tren yang diminati.
Ketiga contoh tadi—Mickey Cap (topi jadi peci), rompi/jaket yang bisa jadi gamis, dan jilbab dengan aksen Swarovski—adalah bentuk inovasi produk. Mereka menghadirkan fitur baru yang belum banyak terpikirkan orang lain, dan pasti ada pionirnya. Dan yang namanya pionir, pasti akan diikuti. Itu bagian dari dinamika bisnis. Semua saling mengikuti, bahkan pionir pun pasti terinspirasi atau mengikuti sesuatu yang kemudian diubah atau dikembangkan.
Dalam bisnis, khususnya fashion, inovasi seringkali akan diikuti, bahkan dimurahkan. Ini adalah fakta. Jujur saja, saya sendiri pernah mengalami menjadi bagian dari mereka yang 'memurahkan' produk serupa. Sebagai seorang pionir yang diikuti dan produknya dimurahkan, saya mewajarkan hal ini; itu adalah sesuatu yang tidak terhindarkan.
Namun, ada satu hal yang mungkin banyak orang enggan ikuti: kualitas. Ketika produk dimurahkan, artinya kualitasnya cenderung berkurang agar harga bisa ditekan. Tapi jika dari awal kualitas produk sudah bagus, tidak banyak orang yang mau atau bisa mengikutinya dengan kualitas yang sama.
Ambil contoh kaos. Saya tahu beberapa seller, bahkan yang tidak menggunakan branding pun, kualitas kaosnya sangat bagus. Mereka tidak mau bermain di kualitas rendah. Dan mereka tidak banyak diikuti. Mungkin karena biaya produksinya mahal, atau mungkin para peniru tidak berani mengikuti standar kualitas yang sama. Mental 'pengikut' yang hanya bisa meniru dan memurahkan cenderung tidak fokus pada kualitas, melainkan pada harga murah. Itu tidak salah; negara seperti Tiongkok, misalnya, sering menggunakan strategi ini dan mereka menjadi adidaya. Namun, poinnya adalah jika Anda fokus pada kualitas, tidak banyak orang yang mau mengikutinya. Ini adalah realita yang saya amati.
Oleh karena itu, jika Anda berbisnis fashion dan harus memilih antara menjadi pionir atau fokus pada kualitas, saran saya adalah fokus pada kualitas. Anda bisa mengikuti tren yang diciptakan pionir lain, lalu menawarkan kualitas yang lebih tinggi. Idealnya, tentu saja, bisa menjadi pionir dengan produk inovatif sekaligus menjaga kualitas. Dengan begitu, ketika produk Anda diikuti, mereka hanya bisa bersaing di harga murah, sementara kualitas tetap menjadi kekuatan Anda.
Namun, kualitas itu sendiri relatif. Bahkan orang dengan daya beli tinggi pun mencari nilai terbaik atau produk yang 'smooth'. Jadi, kualitas adalah persepsi yang sangat tergantung pada individu dan bagaimana orang menilainya.
Ini adalah pemikiran yang sering muncul di benak saya. Saat ini, karena saya sudah tidak lagi memiliki produksi, saya tidak akan masuk ke arena pionir maupun kualitas. Tapi jika saya masih punya produksi, saya akan mencoba mengombinasikan pionir dan kualitas. Meskipun dalam praktik, mungkin tidak semudah yang dibayangkan.

0 Response to "Inovasi Produk Fashion: Antara Pionir, Persaingan, dan Kualitas"
Posting Komentar