My Sticky Gadget

Belajar Jualan Online di Shopee
Beranda · Self-engineering · bisnis · Memoar · Review Buku · Thoughts · Tentang Saya ·

Omset Lebaran Meroket tapi Profit "Boncos"? Ini Cara Saya Pantau Keuntungan Real-Time di Shopee

Omset Lebaran Meroket tapi Profit "Boncos"? Ini Cara Saya Pantau Keuntungan Real-Time di Shopee

Menjelang momen Lebaran, trafik di marketplace seperti Shopee dipastikan akan naik drastis. Paket menumpuk dan angka omset di dashboard mungkin terlihat fantastis. Namun, pertanyaan besarnya bagi saya adalah: Apakah keuntungan yang masuk ke rekening benar-benar sebesar angka omset tersebut?

Seringkali, sebagai seller kita terjebak dalam "ilusi profit". Omset terlihat ratusan juta, tapi setelah dihitung manual di akhir bulan, uang kas yang tersisa ternyata tipis—atau bahkan minus karena tergerus biaya iklan dan retur yang tidak terpantau. Jika masih mengandalkan download-upload Excel manual atau hanya melihat dashboard Seller Center, saya rasa kita mungkin kehilangan momentum untuk mengambil keputusan strategis yang cepat.

Kali ini saya ingin berbagi alasan mengapa saya membutuhkan metode pemantauan GPMI (Gross Profit Minus Iklan) secara real-time untuk menjaga kesehatan toko saya.

Masalah: Seller Center & Laporan Manual Itu "Lambat"

Saya sering merasa omset di dashboard Seller Center besar, tapi uang yang diterima tidak terasa. Berdasarkan pengalmaan saya, ini terjadi karena beberapa hal:

  • Data Semu: Seller Center menampilkan omset kotor, belum dipotong biaya admin yang kompleks, biaya layanan, dan retur barang.
  • Manual itu Ribet: Metode download laporan Excel dan mengolahnya secara manual sangat memakan waktu. Selain itu, metode ini seringkali memiliki blind spot terhadap retur barang yang terjadi di kemudian hari.
  • Tidak Real-Time: Saat trafik tinggi seperti Lebaran, saya tidak punya kemewahan waktu untuk menunggu laporan akhir bulan. Saya perlu tahu hari ini juga: Iklan ini boncos atau untung?

Solusi: Metode GPMI (Gross Profit Minus Iklan)

Dalam pembahasan kali ini, saya tidak akan berbicara tentang Laporan Keuangan Standar Akuntansi yang rumit. Saya lebih fokus pada Dashboard Strategi harian dengan indikator utama GPMI: Keuntungan kotor setelah dikurangi HPP, Admin Fee, dan Biaya Iklan.

Mengapa saya menganggap metode ini lebih superior?

  • Otomatisasi BigSeller: Menggunakan fitur Laporan Keuntungan BigSeller yang jauh lebih cepat daripada rekap manual.
  • Koreksi Data: Mengatasi kelemahan BigSeller (seperti PPN Iklan 11% yang sering tidak terhitung dan HPP yang telat input) menggunakan tools ekstensi khusu.
  • Keputusan Cepat: Mengubah portofolio toko yang "merah" menjadi "hijau" dengan mematikan iklan yang merugi hari itu juga.

Rahasia Dapur: "Kode Pintar" & Standardisasi SKU

Salah satu fondasi utama agar profit bisa dihitung otomatis adalah Standardisasi SKU. Tanpa SKU yang rapi, tools secanggih apa pun tidak akan berguna. Saya pribadi menggunakan format "Kode Pintar" seperti berikut: KODE SUPPLIER + HPP + __ + NAMA VARIAN.

Contohnya: NAURI105__GAMIS_HITAM_XL

Dengan menaruh HPP di dalam nama SKU dan menggunakan pemisah underscore ganda (__), saya bisa mengekstrak data modal secara otomatis menggunakan rumus Spreadsheet tanpa perlu input manual berulang kali.

Studi Kasus: Angka Tidak Bisa Bohong

Saya sempat membedah data toko saya sendiri. Di BigSeller, tertulis profit 5 juta. Namun, setelah saya jalankan menggunakan tools koreksi untuk memasukkan PPN iklan dan HPP yang telat, profit real ternyata hanya 1,4 juta saja. Bayangkan jika saya tidak menyadari selisih ini dan terus "menggas" iklan karena merasa untung besar? Itulah risiko yang sagnat ingin saya hindari.

Siapa yang Cocok Menggunakan Metode Ini?

Metode ini sangat spesifik dan teknis. Saya menyarankan cara ini jika Anda:

  1. Berjualan di Shopee (karena metode ini belum saya validasi untuk TikTok Shop).
  2. Merupakan pengguna aktif BigSeller.
  3. Mengelola lebih dari 3 toko (ternak toko).
  4. Peduli pada angka profit riil, bukan sekadar mengejar omset atau jumlah pket.

Kesimpulan

Jangan biarkan kesibukan Lebaran membuat kita lengah terhadap kebocoran profit. Tujuan saya bukan sekadar memiliki laporan yang rapi, tapi keputusan bisnis yang menyelamatkan uang saya. Untuk itu, saya mengadakan Mini Bootcamp yang akan dilaksanakan dalam format 3 kali pertemuan Zoom dan praktik mandiri selama 10 hari.

Kita akan bedah tuntas mulai dari kodifikasi SKU, setelan laporan BigSeller, hingga penggunaan tools koreksi profit. Siap mengamankan profit Lebaran Anda?

Disclaimer: Metode GPMI ini menghitung profit kotor operasional harian dan belum memperhitungkan biaya gaji karyawan, sewa tempat, atau listrik (Net Profit bisnis).

Bagikan :

Facebook Twitter

0 Response to "Omset Lebaran Meroket tapi Profit "Boncos"? Ini Cara Saya Pantau Keuntungan Real-Time di Shopee"

Posting Komentar