Pada sesi malam ini, saya kembali berdiskusi dengan beberapa teman pengusaha online mengenai tantangan dan peluang dalam berjualan. Ada beberapa pertanyaan menarik seputar kenaikan penjualan yang tak terduga, peran voucher dalam transaksi, hingga strategi membangun jaringan reseller atau distributor untuk brand sendiri.
Menganalisis Lonjakan Penjualan Toko Online
Salah satu teman bertanya mengenai pola pesanan yang berubah drastis dalam beberapa hari terakhir. Produknya tiba-tiba banyak diorder dalam beberapa varian sekaligus dalam satu paket, padahal sebelumnya tidak pernah demikian. Ini adalah kejanggalan yang patut disyukuri, namun juga harus dicari tahu penyebabnya.
Sebagai langkah awal, jika saya berada di posisi tersebut, saya akan mencoba bertanya langsung ke pelanggan (jika bukan COD) untuk apa produk tersebut digunakan. Ini bisa memberikan input baru yang berharga. Kedua, kemungkinan besar ada pengaruh dari voucher yang memiliki ambang batas (threshold). Misalnya, ada voucher Shopee yang berlaku dengan minimal pembelian Rp100.000. Jika harga produk Anda Rp51.000, pelanggan mungkin akan membeli dua agar bisa menggunakan voucher dan mendapatkan harga Rp75.000 untuk dua produk, yang jauh lebih hemat daripada hanya membeli satu seharga Rp51.000.
Pola ini juga sering muncul dalam campaign 'beli dua gratis satu'. Informasi voucher ini bisa dicek melalui data transaksi. Penting sekali untuk tidak hanya fokus mencari tahu penyebab penurunan penjualan, tetapi juga mengapa penjualan bisa naik. Jika kita tahu penyebabnya, kita bisa mencoba mengulang strategi tersebut di kemudian hari.
Selain voucher, faktor iklan juga perlu dianalisis. Mungkin beberapa hari terakhir, ROAS (Return On Ad Spend) iklan Anda kecil, sehingga Shopee berusaha keras mencari pembeli yang biasa membeli dalam jumlah banyak. Analisis kedua faktor ini akan membantu Anda merumuskan strategi selanjutnya.
Memahami Peran Voucher dan Subsidi dari Shopee
Pertanyaan lain muncul mengenai voucher subsidi dari Shopee. Seorang teman merasa tidak pernah mengikuti program voucher tertentu, namun tiba-tiba mendapatkan subsidi Shopee 100%. Saya menjelaskan bahwa subsidi semacam ini memang bisa datang dari Shopee, terutama jika kita berpartisipasi dalam campaign besar seperti 9.9 atau campaign lainnya.
Namun, sangat penting untuk memeriksa secara detail siapa yang menanggung voucher tersebut. Voucher toko biasanya ditanggung oleh penjual. Jika kita ikut campaign, Shopee mungkin membantu membuatkan voucher, tetapi seringkali sebagian atau seluruh biaya voucher tersebut tetap kita yang menanggung. Penting untuk melakukan pengecekan acak dari invoice transaksi, melihat berapa voucher yang ditanggung Shopee dan berapa yang ditanggung penjual.
Memang benar, voucher bisa sangat efektif mendongkrak penjualan. Namun, saya memperingatkan untuk berhati-hati agar toko tidak menjadi 'candu voucher'. Jika strategi pricing kita tidak tepat dan hanya bisa laku jika ada voucher yang 'menghancurkan' harga, maka saat Shopee tidak lagi memberikan subsidi, orderan bisa menurun drastis. Pastikan harga dasar produk Anda kompetitif dan menarik tanpa harus selalu bergantung pada voucher pihak ketiga.
Strategi Reseller dan Distributor untuk Brand Sendiri
Seorang teman yang memiliki brand sendiri dan mulai banyak mendapatkan permintaan untuk menjadi reseller atau distributor, menanyakan tentang strategi pricing. Tantangan terbesar ada pada harga online, terutama di platform seperti Shopee, di mana harga bisa tiba-tiba anjlok karena campaign atau promo, sehingga membuat reseller merasa harga belinya lebih mahal.
Untuk menyaring calon reseller atau distributor, saya menyarankan untuk meminta mereka menjual sejumlah kecil produk terlebih dahulu, misalnya 12 atau 20 pcs, dengan harga yang sama seperti harga di Shopee. Setelah mencapai target tersebut, barulah berikan diskon khusus (misalnya 40-45% dari harga Shopee). Ini akan menyaring mereka yang serius dan membangun loyalitas.
Jika dari awal sudah diberi diskon padahal mereka belum menunjukkan performa, lebih baik mengarahkan mereka ke sistem afiliasi (affiliate) daripada reseller. Sistem afiliasi lebih sederhana karena mereka tidak perlu protes soal harga, cukup fokus pada pembuatan konten.
Mengenai dilema harga promo di Shopee yang bisa lebih murah dari harga reseller, ini memang tantangan. Salah satu solusi adalah ketika harga di Shopee sedang anjlok karena promo, tawarkan promo yang lebih dalam lagi khusus untuk reseller agar mereka bisa kulakan dengan harga yang lebih kompetitif pada hari itu.
Sebagai supplier, penting untuk lebih mengutamakan cash flow dibandingkan profit yang terlalu tinggi. Tidak masalah jika profit per produk tipis (misalnya Rp2.000 - Rp10.000 per pcs), asalkan penagihan lancar. Ini akan menyelamatkan semua pihak: reseller senang karena mendapatkan harga murah, dan kita sebagai supplier juga memiliki cash flow yang aman, mengingat penjualan di platform seperti Shopee dan TikTok seringkali memiliki siklus cash flow yang ketat.
Semoga diskusi ini memberikan pencerahan bagi teman-teman yang sedang mengembangkan bisnis online dan brand sendiri. Untuk tips lainnya, Anda bisa kunjungi ghanirozaqi.com.

0 Response to "Pentingnya Memahami Kenaikan Penjualan dan Strategi Reseller untuk Brand Sendiri"
Posting Komentar